Anggapan bahwa rokok elektrik atau vape lebih sehat dibanding rokok konvensional masih banyak dipercaya masyarakat, khususnya kalangan anak muda. Namun, pandangan tersebut ditegaskan sebagai miskonsepsi oleh tenaga medis.
Dokter spesialis paru subspesialis onkologi toraks, Jaka Pradipta, menyebut bahwa vape bukanlah solusi aman untuk menggantikan rokok.
Ia merujuk pada pernyataan World Health Organization yang menyatakan bahwa rokok elektrik tidak aman, bersifat toksik, serta belum terbukti efektif secara populasi dalam membantu berhenti merokok.
“Hipotesisnya kan sebenarnya vape ini adalah solusi, bagaimana caranya merokok tapi tetap sehat. Padahal itu salah kaprah,” ujarnya.
Menurutnya, vape tetap mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat terhirup ke dalam tubuh. Selain itu, sebagian besar produk vape juga mengandung nikotin yang bersifat adiktif.
“Vape ini pada dasarnya adalah industri nikotin,” tambahnya.
Nikotin, lanjutnya, tidak hanya menyebabkan ketergantungan, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi serta perkembangan otak, terutama pada remaja.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa proses pemanasan liquid dalam vape dapat menghasilkan partikel logam yang ikut terhirup. Paparan zat tersebut dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko kanker.
Selain itu, penggunaan zat perasa (flavoring) dalam vape juga dinilai berbahaya bagi sistem pernapasan.
“Perasa itu seharusnya masuk ke lambung, tapi ini justru masuk ke saluran pernapasan dan bisa menyebabkan peradangan,” jelasnya.
Fenomena ini dikaitkan dengan kasus penyakit paru yang dikenal sebagai Popcorn Lung, yang pertama kali ditemukan pada pekerja pabrik popcorn akibat paparan zat perasa tertentu melalui inhalasi.
Gejala awal penyakit tersebut meliputi batuk kronis dan sesak napas yang dapat memburuk hingga membatasi aktivitas sehari-hari.
Tak hanya itu, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada Oktober 2019 menemukan bahwa 9 dari 40 tikus yang terpapar uap vape mengandung nikotin selama 54 minggu mengalami kanker paru-paru.
Organisasi kesehatan dunia pun telah mendesak adanya pembatasan penggunaan vape, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, mengingat risiko kesehatan yang ditimbulkan serta maraknya pemasaran yang menyasar kelompok usia muda. (Mamluatus Salimah)
Editor : Iwan Iwe



















