Tawa kerap dianggap ringan. Ia datang, meledak sesaat, lalu hilang. Namun dalam pertunjukan stand-up comedy Mens Rea, Pandji Pragiwaksono memperlihatkan bahwa tawa juga bisa menjadi serius, bahkan kental akan aroma politisnya.
Bukan karena leluconnya kasar atau provokatif, melainkan karena ia mengusik sesuatu yang jarang disentuh dalam percakapan publik yaitu niat di balik sebuah tindakan. Sesuai arti tema acaranya dalam Bahasa Latin dan istilah hukum Mens Rea, bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Di titik inilah komedi berhenti menjadi hiburan semata. Ia berubah menjadi bahasa kritik.
Dalam ilmu komunikasi, tidak ada pesan yang benar-benar netral. Setiap ujaran selalu membawa maksud, kepentingan, dan sudut pandang tertentu. Pandji memahami betul prinsip ini. Mens Rea diangkat bukan sekadar sebagai tema, tetapi sebagai kerangka berpikir untuk mengajak penonton meninjau ulang cara mereka menilai orang lain.
Pandji tidak berkhotbah. Ia bercerita, berkelakar, lalu perlahan menyeret penonton ke wilayah refleksi. Humor menjadi pintu masuk yang aman, tetapi pesan yang dibawa justru tidak nyaman.
Inilah ciri komunikasi kritis yaitu tidak memaksa, tetapi mengganggu kebiasaan berpikir.Dalam perspektif komunikasi, ini adalah praktik intensi komunikatif yang sadar. Tawa bukan tujuan akhir, melainkan strategi untuk membuka ruang dialog batin audiens.
Teori encoding–decoding Stuart Hall membantu menjelaskan bagaimana Mens Rea bekerja sebagai teks komunikasi. Pandji mengodekan pesan-pesan ideologis, baik tentang hukum, moralitas publik, dan logika sosial, ke dalam cerita personal dan humor observasional. Ia tidak menyebutkan teori atau konsep akademik, tetapi nilai-nilai itu hadir secara implisit.
Penonton, pada gilirannya, menafsirkan pesan tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menerimanya sepenuhnya, ada yang menegosiasikan maknanya, dan ada pula yang menolak. Reaksi yang beragam, termasuk kontroversi di media sosial. Hal ini justru menegaskan satu hal bahwa Mens Rea telah melampaui fungsi hiburan dan masuk ke wilayah wacana publik.
Komedi, dalam konteks ini, menjadi medium komunikasi ideologis, bukan dalam arti propaganda, tetapi sebagai ajakan berpikir.
Sementara, dalam filsafat sosial lama memandang humor sebagai alat untuk meretakkan kekuasaan simbolik. Ketika sesuatu ditertawakan, ia kehilangan sebagian auranya. Pandji memanfaatkan kekuatan ini untuk mengkritik kecenderungan publik yang gemar menghakimi secara instan, tanpa memahami konteks dan niat.
Michel Foucault pernah menyebut bahwa wacana membentuk cara kita melihat benar dan salah. Dalam Mens Rea, Pandji menantang wacana moral yang serba cepat dan emosional. Ia tidak membela pelanggaran hukum, tetapi mengajak publik berpikir lebih dalam sebelum menunjuk siapa yang benar dan siapa yang salah.
Tawa menjadi alat untuk meruntuhkan kepastian palsu. Dan di situlah komedi menjalankan fungsi sosialnya yaitu tak menghibur kekuasaan, melainkan mengoreksinya secara simbolik.
Namun, komunikasi kritis selalu berisiko. Dalam masyarakat yang terpolarisasi, pesan yang mengajak berpikir sering kali disalahartikan sebagai pembenaran. Pandji sadar akan risiko ini. Di sinilah konsep mens rea menjadi penting, bukan hanya sebagai tema pertunjukan, tetapi sebagai etika komunikasi.
Dalam ilmu komunikasi, tanggung jawab pesan tidak hanya terletak pada dampaknya, tetapi juga pada niat dan kesadaran komunikator. Pandji memilih untuk berbicara, dengan konsekuensi bahwa pesannya bisa ditolak atau disalahpahami. Namun justru di situlah letak keberanian komunikatifnya.
Ia tidak menjual kenyamanan, tetapi menawarkan kegelisahan yang produktif.
Mens Rea menunjukkan bahwa stand-up comedy dapat menjadi praktik komunikasi publik yang serius tanpa kehilangan sifat populernya. Komedi, ketika dijalankan dengan niat yang sadar, mampu menjembatani hiburan dan refleksi, tawa dan kritik, popularitas dan pemikiran.
Dalam perspektif ilmu komunikasi dan filsafat sosial, pertunjukan ini mengingatkan kita bahwa tawa bukan sekadar reaksi emosional. Ia bisa menjadi awal dari kesadaran. Dan ketika komedi dijadikan bahasa kritik, ia tidak hanya membuat kita tertawa, tetapi juga berpikir ulang tentang cara kita memahami dunia dan sesama. Mari tertawa dengan kritis.
*) penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik
Editor : Iwan Iwe



















