Menu
Pencarian


Polemik Massa Bayaran di Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad dan Willie Salim Klarifikasi

Portaljtv.com - Sabtu, 31 Oktober 2026 08:54
Polemik Massa Bayaran di Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad dan Willie Salim Klarifikasi
Raffi Ahmad dan Willie Salim menghadiri acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026). (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, menjadi sorotan publik setelah muncul pengakuan seorang peserta yang mengaku bukan mahasiswa, tetapi hadir dalam kegiatan tersebut karena menerima bayaran. Peserta itu juga mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara (UNDIRA) yang disebut diberikan kepadanya tanpa penjelasan mengenai asal-usulnya.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) tersebut turut dihadiri sejumlah figur publik, di antaranya Raffi Ahmad dan Willie Salim, serta unsur aparat keamanan dari Polda Metro Jaya dan TNI. Pengakuan peserta mengenai keterlibatan massa bayaran itu kemudian memicu kritik dan polemik di media sosial.

Pengakuan Peserta Bayaran

Bayu Setiadi alias Dino mengaku bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Dalam keterangannya, ia menyebut kehadirannya dalam acara deklarasi tersebut berdasarkan undangan dari sebuah komunitas dan disertai pembayaran.

"Saya Bayu Setiadi alias Dino, saya adalah orang yang ada di video ini. Saya di sini berhak mengklarifikasi bahwa saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Saya mengikuti acara deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 berdasarkan undangan dari Komunitas dan saya dibayar," ujar Bayu.

Pengakuan tersebut mencuat setelah Bayu diwawancarai awak media saat mengenakan almamater UNDIRA. Selain itu, warganet juga menyoroti peserta lain bernama Sari yang terlihat mengenakan almamater Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), meskipun disebut bukan mahasiswa aktif kampus tersebut.

Bayu juga mengaku tidak mengetahui asal-usul almamater yang dikenakannya karena atribut tersebut diberikan oleh pihak lain.

"Mengenai almamater yang saya kenakan itu diberikan kepada saya tanpa saya ketahui asal usulnya," terangnya.

Polemik Penggunaan Almamater Kampus

Penggunaan atribut kampus dalam kegiatan tersebut turut menuai keberatan dari pihak institusi pendidikan yang namanya dicatut. Universitas Dian Nusantara dan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menjadi sorotan setelah atribut resmi kedua kampus terlihat dikenakan peserta deklarasi.

Pencatutan almamater tersebut memunculkan persoalan mengenai penggunaan identitas institusi pendidikan tanpa keterlibatan atau persetujuan pihak kampus.

Di sisi lain, Bayu menyampaikan apresiasi kepada organisasi mahasiswa (ormawa) UNDIRA yang memberinya kesempatan untuk memberikan klarifikasi tanpa intimidasi serta menjamin keamanannya.

"Saya berterima kasih kepada rekan-rekan ormawa Undira yang memberikan saya kesempatan klarifikasi saya tanpa mengintimidasi dan menjamin keamanan saya," ucap Bayu.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada pihak kampus atas penggunaan almamater tersebut.

"Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang dirugikan terutama kepada pihak Universitas Dian Nusantara," lanjutnya.

Raffi Ahmad dan Willie Salim Beri Klarifikasi

Polemik deklarasi tersebut turut menyeret nama Raffi Ahmad dan Willie Salim yang hadir dalam kegiatan tersebut. Keduanya kemudian menyampaikan klarifikasi terkait keterlibatan mereka dalam acara deklarasi Sumpah Pemuda.

Raffi Ahmad menegaskan bahwa kehadirannya sebatas memenuhi undangan yang diterima pada malam sebelum kegiatan berlangsung. Ia juga menyatakan tidak terlibat dalam perencanaan teknis maupun pengerahan peserta.

Sementara itu, Willie Salim membantah menerima bayaran untuk menghadiri kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan permintaan maaf karena tidak terlebih dahulu memeriksa latar belakang penyelenggaraan acara secara mendalam.

Polemik ini menjadi perhatian publik karena kegiatan yang mengusung semangat persatuan dan integritas pemuda justru diwarnai pengakuan peserta mengenai penerimaan bayaran serta penggunaan atribut kampus yang tidak sesuai dengan identitas pemakainya.

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi penyelenggara kegiatan dan figur publik untuk memastikan transparansi penyelenggaraan acara, termasuk kejelasan identitas peserta dan penggunaan atribut institusi. (Tengku Abdillah Ayyub)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.