SURABAYA - Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, turun tangan membantu pembangunan plengsengan di kawasan Punden Telogo Sepat, Kelurahan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri.
Langkah ini diambil setelah warga berulang kali mengajukan pembangunan lewat dana kelurahan (dakel), namun tak kunjung mendapat persetujuan dari Pemkot Surabaya.
“Alhamdulillah di kesempatan reses ini saya menginisiasi sekaligus membantu pembangunan plengsengan telaga punden Sepat dengan dana pribadi sebesar Rp26,5 juta. Dana itu digunakan untuk sisi utara punden karena kondisinya sangat urgent,” kata politisi yang akrab disapa Cak Yebe, saat reses di Punden RW 5 Lidah Kulon, Sabtu (13/9/2025).
Menurut Cak Yebe, kondisi plengsengan di sisi utara punden sangat rawan longsor saat musim hujan. Jika dibiarkan, lanjutnya, bangunan balai RW dan pendopo yang dipakai untuk kegiatan warga bisa tergerus bahkan ambles.
Baca Juga : Idul Adha Berbagi: Ketua Komisi A DPRD Surabaya Cak Yebe Salurkan 41 Hewan Kurban
“Kalau musim hujan, tanah di sekitar punden berisiko longsor. Itu bisa membahayakan bangunan balai RW dan pendopo yang dipakai warga untuk kegiatan sehari-hari,” ujar politisi Gerindra ini.
Warga RW 5 Lidah Kulon sudah berkali-kali mengajukan pembangunan plengsengan melalui program dakel, namun selalu gagal direalisasikan. Kondisi ini membuat masyarakat akhirnya mengandalkan inisiatif pribadi dari Cak Yebe demi menyelamatkan lokasi bersejarah tersebut.
“Kesuwen ngenteni dan arep-arep dakel. Punden ini sarat histori bagi warga Sepat Lidah Kulon dan salah satu bagian dari kasanah budaya lokal Surabaya yang harus dilestarikan,” imbuh Cak Yebe.
Baca Juga : May Day 2026, Cak Yebe: Momentum Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah Sejahterakan Buruh

Punden Telogo Sepat sendiri memiliki sejarah panjang yang lekat dengan identitas warga setempat. Lokasi ini dulunya dikenal sebagai Waduk Sakti Sepat, sebuah telaga tua yang juga memiliki fungsi spiritual dan kultural bagi masyarakat.
Dalam tradisi Jawa, punden merupakan tempat sakral yang sering menjadi pusat upacara adat seperti sedekah bumi atau ritual lainnya. Keberadaannya dipercaya sebagai simbol penjaga kampung dan dihormati sebagai warisan leluhur.
Baca Juga : Komisi A DPRD Surabaya Dukung Rotasi 78 Pejabat Pemkot
“Punden Telogo Sepat ini bukan lokasi biasa, tapi memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat penting. Jika situs seperti ini rusak, bukan hanya fisiknya yang hilang, tapi juga warisan budaya yang diwariskan turun-temurun,” jelas Cak Yebe.
Sayangnya, situs-situs budaya seperti Punden Telogo Sepat kerap luput dari perhatian pemerintah. Banyak punden di Surabaya yang belum mendapatkan anggaran pemeliharaan, padahal memiliki nilai penting sebagai identitas kota pahlawan.
“Ini bukan hanya soal infrastruktur kecil, tapi soal warisan budaya yang perlu dijaga. Pemerintah harus lebih peduli pada titik-titik bersejarah seperti ini,” tegasnya.
Baca Juga : Komisi A DPRD Surabaya Dukung WFH ASN Pemkot Setiap Hari Jumat
Dengan pembangunan plengsengan ini, warga berharap keberadaan Punden Telogo Sepat tetap terjaga dan aman, terutama saat musim hujan.
"Semoga upaya ini bisa menjadi contoh sinergi antara legislatif dan masyarakat dalam melestarikan budaya lokal sekaligus menjaga keamanan lingkungan," pungkas Cak Yebe.(*)
Editor : M Fakhrurrozi



















