BLITAR - Jelang Hari Raya Idul Fitri, camilan khas Blitar bernama Peyek Koin semakin diminati. Camilan ini, yang biasanya disajikan sebagai lauk oleh warga Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, kini dimodifikasi menjadi sajian lebaran yang unik dan menarik.
Peyek Koin memiliki ukuran sebesar uang koin, membuatnya berbeda dari peyek pada umumnya. Camilan ini tidak hanya menjadi favorit warga lokal, tetapi juga mulai merambah pasar nasional bahkan internasional.
Ipong Wahyudianto, pemilik usaha Peyek Koin, memulai bisnis ini pada tahun 2019. Awalnya, ide ini muncul saat Ipong masih kuliah dan terdampak pandemi. Daripada menganggur, ia memutuskan untuk memanfaatkan waktu dengan memulai bisnis camilan.
“Awalnya, saya mengalami banyak kesulitan dalam produksi. Saya mencoba hingga tujuh kali sebelum akhirnya menemukan resep yang pas,” cerita Ipong.
Baca Juga : Ratusan Warga Demo Tuntut Penutupan Tambang Pasir di Blitar Akibat Dampak Lingkungan
Berawal dari menjual satu kilogram Peyek Koin ke Kota Batu, kini Ipong mampu memproduksi hingga 15 kilogram per hari, terutama saat memasuki bulan Ramadan. Saat ini, ia dibantu oleh empat karyawan dalam proses produksi.
Dalam sebulan, omzet yang dihasilkan mencapai sekitar Rp15 juta. Namun, menjelang Lebaran, omzetnya bisa melonjak hingga Rp20-30 juta per bulan.
Peyek Koin milik Ipong dipasarkan melalui promosi online di media sosial. Pesanan pun berdatangan, tidak hanya dari pasar lokal tetapi juga dari luar negeri seperti Taiwan dan Hong Kong.
Baca Juga : Siswi SMP di Blitar Jadi Korban Bullying Akibat Cemburu, Aksi Keji Terekam Video
“Saya senang bisa membawa Peyek Koin ke tingkat yang lebih luas. Ini menjadi kebanggaan tersendiri,” kata Ipong.
Dengan inovasi dan ketekunannya, Ipong berhasil mengubah camilan tradisional menjadi produk yang diminati hingga mancanegara. Peyek Koin kini tidak hanya menjadi camilan lebaran, tetapi juga simbol kreativitas dan ketahanan usaha kecil di tengah tantangan.(Qithfirul Aziz)
Editor : JTV Kediri