PortalJTV — Siang itu, warga Kampung Mlasmilly tidak hanya datang untuk melihat proses pengolahan pisang. Mereka ikut mencoba, mengolah, dan berdiskusi tentang bagaimana hasil kebun yang selama ini dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendampingan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya (UB) Tim 3 bersama masyarakat Kampung Mlasmilly, Distrik Klamono. Tim mengajak warga mempraktikkan pengolahan pisang secara tradisional dengan memanfaatkan peralatan sederhana yang tersedia di lingkungan kampung.

Pemilihan pisang sebagai bahan pelatihan bukan tanpa alasan. Komoditas ini cukup mudah ditemukan di sekitar masyarakat dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Selama ini, pisang umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga atau dijual dalam bentuk segar. Pengolahan menjadi produk turunan membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas tersebut.

Dalam prosesnya, warga tidak hanya menjadi peserta, tetapi terlibat langsung dalam praktik. Mulai dari menyiapkan bahan, mengolah pisang, hingga memahami tahapan yang dapat dilakukan kembali secara mandiri. Interaksi selama pelatihan juga menjadi ruang bagi tim dan warga untuk bertukar pengetahuan mengenai potensi serta kebutuhan pengembangan produk di kampung.

“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya berhenti pada praktik pengolahan. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mulai melihat potensi yang ada di sekitar mereka dan bisa mengembangkannya sesuai dengan kemampuan serta kondisi di kampung,” ujar salah satu anggota Tim Ekspedisi Patriot UB Tim 3.

Upaya tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pemanfaatan komoditas lokal melalui pengolahan di tingkat masyarakat dapat menjadi salah satu langkah untuk menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan memperkuat aktivitas ekonomi lokal. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pemanfaatan hasil pertanian secara lebih optimal.

Kepala Distrik Klamono, Bapak Okto, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot UB bersama masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena masyarakat mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Potensi seperti pisang sebenarnya sudah ada di kampung, tinggal bagaimana kita bersama-sama mengembangkannya supaya bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Bapak Okto.

Bagi warga yang mengikuti pelatihan, kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai pemanfaatan hasil kebun. Salah satu peserta mengatakan bahwa selama ini pisang lebih sering dikonsumsi atau dijual secara langsung. Melalui pelatihan, warga mendapatkan gambaran bahwa pengolahan dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan nilai jual.

“Kami jadi tahu ada cara lain untuk memanfaatkan pisang. Kalau bisa dikembangkan dan dilakukan terus, mungkin bisa menjadi usaha untuk masyarakat di sini,” ungkap salah satu peserta.

Kegiatan di Mlasmilly menjadi bagian dari upaya Tim Ekspedisi Patriot UB Tim 3 untuk mendampingi masyarakat berdasarkan potensi yang benar-benar ada di lapangan. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pengembangan, bukan hanya sebagai penerima program.

Pisang mungkin terlihat sederhana. Namun, dari komoditas yang tumbuh di sekitar kampung, terdapat peluang untuk menciptakan produk, keterampilan, dan aktivitas ekonomi baru. Mlasmilly menunjukkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat dapat dimulai dari potensi yang paling dekat dengan kehidupan mereka.

Perjalanan Tim Ekspedisi Patriot UB Tim 3 di Klamono masih berlanjut. Berbagai potensi lokal akan terus digali bersama masyarakat untuk melihat peluang yang dapat dikembangkan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Ikuti terus cerita Tim Ekspedisi Patriot UB Tim 3 dari Klamono, karena setiap potensi lokal punya cerita dan peluangnya sendiri.
Editor : JTV Malang



















