SURABAYA - Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan sekitar dua pertiga wilayahnya berupa perairan. Namun ironisnya, jumlah tenaga ahli di bidang teknik kelautan masih jauh dari kebutuhan industri. Kondisi ini justru membuka peluang besar bagi generasi muda yang ingin berkarier di sektor strategis tersebut.
Fenomena ini dibahas dalam program “Ruang Karir” yang tayang di JTV pada Rabu (18/2/2026). Program tersebut mengangkat tema “Tantangan dan Peluang Kerja Sarjana Teknik Kelautan” dengan menghadirkan dua narasumber dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yakni Muhammad Zikra selaku Kepala Departemen Teknik Kelautan FTK ITS, dan Fahmy Ardhiansyah, alumni yang kini berkarier di PT PLN (Persero).
Dua Fokus Keilmuan: Kelautan dan Lepas Pantai
Departemen Teknik Kelautan ITS memiliki dua program studi utama, yakni Teknik Kelautan dan Teknik Lepas Pantai (Offshore).
Baca Juga : Peluang Karir Penguji Analis Laboratorium di Indonesia Kian Terbuka Lebar
- Teknik Kelautan: Berfokus pada pengelolaan wilayah pesisir hingga tengah laut, mencakup perencanaan pelabuhan, reklamasi, pengelolaan sumber daya pesisir, hingga energi terbarukan berbasis gelombang dan arus laut.
- Teknik Lepas Pantai (Offshore): Menitikberatkan pada rekayasa struktur di laut dalam, seperti anjungan minyak dan gas, kabel laut, serta konstruksi offshore engineering.
Menurut Zikra, hingga beberapa tahun ke depan, Indonesia masih membutuhkan sekitar 15 ribu insinyur di bidang teknik kelautan. Namun, jumlah profesional tersertifikasi yang benar-benar bergerak di sektor maritim saat ini masih sangat terbatas.
Lulusan Cepat Terserap Industri
Dari sisi prospek kerja, lulusan teknik kelautan tergolong cepat terserap pasar kerja dengan rata-rata waktu tunggu kurang dari enam bulan. “Bahkan banyak alumni kami bekerja di perusahaan asing dengan penghasilan dalam mata uang dolar,” ujar Zikra.
Baca Juga : Menembus Jepang, Menggenggam Masa Depan: Peluang Karier Global bagi Generasi Muda
Bidang kerja lulusan tidak terbatas pada sektor minyak dan gas saja. Mereka juga dapat berkarier di sektor energi, pemerintahan, riset, hingga manajerial proyek. Fahmy Ardhiansyah menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga teknik kelautan kini juga merambah sektor kelistrikan, terutama untuk infrastruktur di wilayah pesisir.
“Kelautan mungkin memang belum sepopuler jurusan teknik lain, tapi justru di situlah peluangnya besar. Indonesia ini dua pertiga wilayahnya laut, aset ini harus dikelola oleh ahlinya,” kata Fahmy.
Pentingnya 'Soft Skill' dan Sertifikasi
Baca Juga : Sukses Berwirausaha dari Rumah: Pelatihan Menjahit Sepatu BLK Jombang Jadi Incaran Warga
Selain kompetensi teknis, dunia industri sangat membutuhkan lulusan yang memiliki soft skill kuat seperti kemampuan kerja tim, kepemimpinan, dan komunikasi lintas disiplin.
Fahmy menambahkan, sertifikasi tambahan dapat meningkatkan daya saing secara signifikan. “Sertifikasi menjadi pembeda. Ketika kita punya keahlian tambahan seperti selam atau project management, nilai jual kita di industri meningkat,” ujarnya. Beberapa sertifikasi relevan di antaranya adalah sertifikasi selam, pengelasan bawah air (underwater welding), hingga Project Management Professional (PMP).
Kesempatan Studi Internasional
Baca Juga : Peluang Emas Sarjana Teknik Kelautan, Indonesia Butuh 15 Ribu Insinyur Maritim
Untuk memperluas pengalaman global, ITS menyediakan program double degree bekerja sama dengan Universiti Malaysia Terengganu. Program ini memungkinkan mahasiswa belajar di lintas negara dan memperluas jejaring internasional.
Meski berbasis teknik dan membutuhkan dasar matematika serta fisika yang kuat, jurusan ini terbuka bagi calon mahasiswa dari berbagai latar belakang selama memenuhi persyaratan seleksi. Dengan kebutuhan industri yang tinggi, Teknik Kelautan menjadi salah satu bidang paling menjanjikan untuk masa depan Indonesia sebagai poros maritim dunia. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















