PACITAN - Pasar Krempyeng dalam rangkaian Festival Ronthek Pacitan 2026 resmi dibuka pada Jumat (17/7) sore. Pembukaan dilakukan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan, Heru Wiwoho, dan dimeriahkan dengan penampilan tari dari Sanggar Pradnya Junior serta peragaan busana (fashion show).
Tahun ini, Pasar Krempyeng kembali menjadi salah satu daya tarik utama Festival Ronthek. Antusiasme masyarakat maupun pelaku UMKM bahkan sudah terlihat sejak sebelum pendaftaran resmi dibuka.
Ketua Panitia Pasar Krempyeng, Khoirul Amin, mengatakan tingginya minat peserta menunjukkan kegiatan tersebut telah memberi dampak positif terhadap perekonomian daerah.
"Antusiasnya cukup luar biasa. Bahkan sebelum informasi pembukaan Pasar Krempyeng kami sebarkan, sudah banyak yang menghubungi untuk mendaftar. Ini menjadi bukti bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif bagi pergerakan ekonomi di Kabupaten Pacitan," kata Khoirul.
Baca Juga : 6.582 Gempa Tercatat Lima Tahun, BMKG Jadikan Pacitan Prioritas Penguatan Mitigasi
Memasuki hari pertama penyelenggaraan, masyarakat mulai memadati lokasi sejak sore hari. Panitia optimistis jumlah pengunjung akan terus meningkat pada malam hari.
"Sekarang masih sekitar pukul 16.30 saja masyarakat sudah mulai berdatangan. Kami yakin nanti akan membludak. Target kami setiap malam sekitar 5.000 hingga 10.000 pengunjung bisa hadir di area ini," ujarnya.
Sebanyak 40 tenant turut meramaikan Pasar Krempyeng tahun ini. Tenant tersebut terdiri dari pelaku UMKM, perajin kriya, wastra, binaan organisasi perangkat daerah (OPD), hingga komunitas kopi dari berbagai wilayah di Pacitan.
Baca Juga : BPBD Pacitan Siaga Hadapi Kekeringan, Pengajuan Bantuan Air Bersih Masih Nihil
"Ada 40 tenant yang terdiri dari kriya, wastra, binaan OPD, komunitas kopi dengan 10 tenda, serta UMKM dari berbagai kecamatan di Pacitan," jelasnya.
Salah satu yang menjadi pembeda pada penyelenggaraan tahun ini adalah hadirnya gubuk bambu yang menampilkan beragam hasil kerajinan dan budaya bambu khas Pacitan.
Menurut Khoirul, konsep tersebut dihadirkan agar Festival Ronthek tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda.
Baca Juga : Festival Ronthek Pacitan 2026 Usung Konsep Panggung Berjalan, Penjurian Sepanjang Jalur
"Kami ingin Ronthek tidak hanya sekadar pagelaran seni, tetapi juga memiliki nilai budaya. Budaya bambu sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pacitan, mulai untuk bercocok tanam, peralatan rumah tangga, alat musik hingga permainan tradisional. Kami ingin mengenalkan kembali warisan budaya ini karena generasi muda mulai banyak yang tidak mengenalnya," pungkasnya. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan



















