SITUBONDO - Suasana sore hari di Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Situbondo, Kabupaten Situbondo, berubah semarak setiap bulan Ramadan. Warga memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa untuk ngabuburit dengan menerbangkan layangan sowangan di area persawahan yang baru dipanen.
Hamparan sawah yang luas dan terbuka menjadi lokasi favorit. Lahan yang telah bersih dari tanaman padi memberi ruang leluasa bagi para pemain untuk mengendalikan layangan berukuran besar tersebut.
Layangan sowangan memiliki ciri khas yang membedakannya dari layangan biasa. Ukurannya relatif besar dengan rangka bambu yang kokoh. Saat sudah mengudara tinggi, layangan ini mengeluarkan suara dengungan khas yang terdengar dari kejauhan. Suara itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang menyaksikan.
Untuk menerbangkannya, pemain menggunakan tali pancing berukuran besar atau bahkan tali tambang. Ukuran dan bobot layangan membuat kendali harus benar-benar diperhatikan agar tetap stabil di udara.
Baca Juga : Ngabuburit Ala Warga Dawuhan, Terbangkan Layangan Sowangan Berukuran Besar

Suparman, salah satu pemain mengatakan, menerbangkan layangan sowangan tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan kejelian membaca arah angin serta teknik penyetelan yang tepat sebelum layangan dilepas tinggi.
"Tantangan harus disetel agar bisa tenang saat di udara. Kalau tenang sudah bisa ditinggal atau dipanjer, sambil menunggu waktu berbuka puasa," ujarnya.
Baca Juga : Ledakan Petasan Hancurkan Rumah Warga di Situbondo, 1 Tewas 6 Luka
Menurutnya, proses setting menjadi kunci utama. Jika posisi dan keseimbangan tidak tepat, layangan bisa oleng bahkan jatuh. Karena itu, pemain harus sabar dan memahami karakter angin sore hari yang terkadang berubah-ubah.
Tradisi ini bukan sekadar permainan, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan warga. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa berkumpul di sawah sambil berbincang dan menikmati suasana Ramadan.
Menjelang azan Magrib, satu per satu layangan diturunkan dan warga kembali ke rumah masing-masing untuk berbuka puasa bersama keluarga. (*)
Editor : A. Ramadhan

















