TRENGGALEK - Pameran Festival Jaranan Terbuka Trenggalek (FJTT) 2026 hadir dengan sentuhan berbeda. Tidak sekadar memajang artefak seni, pergelaran tahun ini secara khusus menyoroti sosok para pengrajin beserta keunikan karya yang mereka ciptakan.
Konsep segar tersebut sengaja diusung untuk mengajak masyarakat menyelami kesenian jaranan secara lebih mendalam. Pengunjung tidak hanya disuguhi informasi mengenai asal usul daerah atau gaya tarian, tetapi juga diajak mengenali karakter seniman dan cerita di balik setiap mahakarya.
Demi menyajikan pameran yang komprehensif, tim FJTT melakukan riset lapangan selama sekitar satu bulan. Mereka memetakan berbagai kelompok dan pengrajin yang memiliki ciri khas menonjol, di antaranya adalah Sanggar Kudo Tri Lestari dan Sanggar Mayangsari.
Tim pameran FJTT, Saga Tanjung Ilham, menjelaskan bahwa setiap sanggar memiliki daya tarik tersendiri. "Kudo Tri Lestari menjadi sorotan karena mereka masih konsisten menggunakan pecut berbahan bambu dan material alam," ungkapnya.
Di sisi lain, Sanggar Mayangsari mendobrak tradisi dengan menampilkan keterlibatan ibu-ibu PKK. Partisipasi perempuan ini dinilai memberikan warna baru yang lebih inklusif dalam ekosistem kesenian jaranan setempat.
Selain mengupas kiprah para pengrajin, pameran ini juga memamerkan ragam variasi karya yang unik. Salah satu yang mencuri perhatian adalah jaranan jampi, yakni penyajian tiga jenis jaranan yang dimainkan secara bersamaan dalam satu panggung tanggapan.
Pendekatan pameran yang bernilai edukasi ini mendapat respons positif dari masyarakat. Salah satu pengunjung, Thalia Silfiana, mengaku mendapatkan wawasan baru usai melihat langsung berbagai karya yang dipajang. "Melalui pameran ini kita diajak memahami jaranan lebih luas, bukan hanya sebagai pertunjukan atau artefak, tetapi juga karya yang memiliki karakter, cerita, dan identitas pengrajinnya," tuturnya. ( Simon Bagus/Mochammad Herlambang )
Editor : JTV Kediri



















