Kesenian dan kesusastraan di Surabaya masih sangat dipandang sebelah mata oleh masyarakat awam. Kepemilikan dan apresiasi terhadap karya sastra dan seni masih terus mencari posisi utama dalam perhatian masyarakat sebagai alat untuk mempertahankan budaya dan kebebasan berekspresi.
Hal ini menjadi kekhawatiran pegiat sastra khususnya di lingkungan akademik. Mereka menyayangkan bagaimana mahasiswa khususnya mahasiswa sastra dan seni sendiri, masih banyak yang belum atau bahkan tidak tertarik untuk bergiat di dunia sastra. Teater Gapus, salah satu Badan Semi Otonom (BSO) yang merupakan komunitas sastra dan teater di bawah naungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR), mengambil langkah untuk berusaha mengembalikan minat sastra melalui program kerja Magang BSO.
Dari tahun ke tahun, komunitas-komunitas di bawah naungan FIB UNAIR membuat program kerja Magang BSO yang menyasar mahasiswa baru FIB UNAIR dengan dukungan Bradanaya, program orientasi mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya, yang mendorong mahasiswa baru untuk mengeksplorasi beragam BSO pada Fakultas Ilmu Budaya.

Di tahun 2026 ini, BSO Teater Gapus menyediakan wadah untuk mahasiswa baru FIB UNAIR yang tertarik dan yang mau belajar tentang kesusastraan dan kesenian teater. Pada Display BSO dalam rangkaian kegiatan Bradanaya, Teater Gapus tampilkan cuplikan pementasan yang akan dipentaskan sebagai perkenalan terhadap stance kesenian yang dibawakan oleh Teater Gapus, serta untuk mempromosikan program magang BSO di Teater Gapus.
Dalam rangkaian magangnya, Teater Gapus sediakan empat hari dalam jangka waktu dua minggu untuk mahasiswa baru mempelajari dasar-dasar sastra dan teater secara umum, mulai 11 Agustus hingga 21 Agustus 2026. Magang hari pertama digunakan untuk memperkenalkan Teater Gapus secara komunitas—tentang kegiatan apa saja yang dilakukan dalam periode satu tahun, flow kerja, dan divisi-divisi di dalamnya. Selain itu, disajikan penampilan musikalisasi puisi, pentas monolog, serta pembacaan puisi sebagai pengantar kepada materi di hari-hari selanjutnya.

Hari kedua menjadi kesempatan untuk mahasiswa baru mempelajari seluk beluk dasar penulisan puisi. Ilmi, anggota Teater Gapus yang menjadi penanggung jawab dalam program ini, menjelaskan bahwa tujuan utama dari program magang ini adalah untuk memperkenalkan kepada mahasiswa baru tentang bentuk kesusastraan yang akan mereka pelajari di perkuliahan. “Kami ingin menunjukkan perbedaan dari sastra yang mereka pelajari di kuliah nanti dengan sastra yang telah mereka pelajari di sekolah.”
Materi penulisan puisi ini diisi oleh Nanda Alifiah, seorang alumni Teater Gapus yang memenangkan Juara I Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2014 tangkai penulisan puisi. Pendekatan yang beliau lakukan dalam upaya menunjukkan kontras antara konsep puisi secara konvensional di masyarakat umum dengan penulisan puisi dengan tujuan menulis sastra secara mendalam adalah dengan mengajak mahasiswa baru untuk menjelaskan konsep nyata yang mereka tangkap soal puisi ketika sekolah, kemudian membedah contoh puisi-puisi lebih dari unsur intrinsiknya. Setelah itu, mereka diajak untuk mendeskripsikan sesuatu tanpa menyebutkan nama bendanya, sebagai latihan pengembangan metafora dalam penulisan puisi.
Di hari ketiga, mahasiswa baru diperkenalkan pada teater. Keteateran tidak hanya bersangkut paut pada keaktoran, tetapi juga melibatkan unsur lain yaitu penyutradaraan, serta artistik yang meliputi termasuk properti, pencahayaan, tata rias, dan tata busana. Dalam satu pertemuan, mahasiswa baru dikenalkan tentang unsur-unsur tersebut dan mencoba membuat ‘pentas’ kecil-kecilan dengan kelompok masing-masing secara spontan tanpa diberikan naskah tertentu.
Pementasan kecil yang hanya didiskusikan selama 20 menit ini tentu bukan dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan pementasan yang benar dan sempurna, melainkan untuk memperkenalkan kepada mahasiswa baru tentang bagaimana cara berproses dalam sebuah pementasan yang meliputi aspek apa saja yang harus dikerjakan dalam sebuah naskah, dan proses berdiskusi lainnya. Hal ini akan menjadi dasar untuk memperkenalkan pada peserta magang yang belum pernah berproses dalam sebuah produksi teater.
Hari terakhir dari Magang BSO Teater Gapus kembali ditutup dengan penampilan puisi dan musikalisasi puisi dari anggota dan alumni, serta panggung bebas untuk para peserta magang yang ingin menampilkan hasil yang sudah mereka pelajari selama periode magang. Di hari terakhir ini pula pendopo FIB UNAIR dihiasi oleh instalasi yang terdiri dari zine atau majalah kecil yang dibuat para peserta selama periode magang.

Rangkaian kegiatan magang ini merupakan hasil evaluasi dari rangkaian Magang BSO Teater Gapus selama dua tahun ke belakang. Ilmi, selaku penanggung jawab magang tahun ini mengakui bahwa magang di tahun-tahun sebelumnya terlalu fokus terhadap satu aspek kesenian saja. Ia ingin mengubah cara pandang mahasiswa baru yang menjadi peserta magang bahwa Teater Gapus tidak hanya bergerak dalam bidang keteateran, melainkan juga berfokus pada kesusastraan, bahkan ingin meneruskan ilmu-ilmu sastra yang dipelajari di komunitas ini. “Di tahun ini kami setuju untuk membuat magang ini menjadi semacam pembelajaran, sehingga di setiap hari (magangnya) dikasih materi berbeda-beda agar mereka mengerti bagaimana Gapus bekerja.” (Azzahratul Humaira Balqis)
Editor : Iwan Iwe



















