Menu
Pencarian

Kue Puro: Kuliner Simbol 'Pangapura' dan Filosofi Mendalam di Balik Selametan Kematian

Portaljtv.com - Selasa, 3 Maret 2026 12:42
Kue Puro: Kuliner Simbol 'Pangapura' dan Filosofi Mendalam di Balik Selametan Kematian
Kue Puro, Simbol Permohonan Ampunan dalam Tradisi Selametan Jawa

MADIUN - Di sejumlah daerah di Jawa Timur, khususnya Madiun dan sekitarnya, Kue Puro menjadi hidangan yang hampir selalu hadir dalam ritual selametan kematian. Kue tradisional berbahan dasar tepung beras, kelapa parut, dan gula merah ini bukan sekadar sajian pengganjal perut, melainkan sarat akan makna simbolik yang berkaitan dengan doa dan permohonan ampunan kepada Sang Khalik.

Secara etimologis, nama "puro" dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari kata pangapura, yang berarti memohon maaf. Kehadiran kue ini dalam tradisi selametan menjadi simbol permohonan ampunan bagi almarhum maupun keluarga yang ditinggalkan. Biasanya, kue ini dibagikan kepada tamu usai doa bersama sebagai wujud solidaritas sosial.

Filosofi Bentuk dan Warna

Bentuknya yang segitiga atau limas dan dibungkus daun pisang menyerupai contong memiliki filosofi tersendiri. Bentuk kerucut yang meruncing ke atas dimaknai sebagai lambang doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ada pesan spiritual yang mendalam di balik struktur kue ini:

  • Warna Putih: Melambangkan kesucian hati dan pesan bahwa ampunan Tuhan senantiasa terbuka luas.
  • Isian Gula Merah: Isian manis yang tersembunyi di bagian tengah menggambarkan kesalahan atau dosa manusia yang dibungkus oleh niat untuk kembali suci.
  • Tekstur Lembut: Mencerminkan kerendahan hati manusia dalam menjalani kehidupan.

Proses Pembuatan yang Penuh Ketelitian

Meski terlihat sederhana, pembuatan Kue Puro membutuhkan ketelitian agar menghasilkan tekstur yang pas. Tepung beras dikukus terlebih dahulu agar matang sempurna dan lebih tahan lama, kemudian dicampur dengan kelapa parut dan sedikit garam hingga lembap.

Adonan tersebut dimasukkan ke dalam daun pisang berbentuk kerucut, diberi isian gula merah di tengahnya, lalu dikukus selama 30 hingga 45 menit. Pemilihan bahan yang segar, terutama tepung beras yang baru digiling dan kelapa muda, menjadi kunci utama kelembutan dan cita rasa gurih kue ini.

Menjaga Warisan Filosofi Hidup

Hingga kini, Kue Puro tetap bertahan sebagai bagian dari warisan kuliner tradisional Jawa yang menyatu dengan nilai adat dan kepercayaan masyarakat. Keberadaannya tidak hanya memperkaya khazanah kuliner Nusantara, tetapi juga merekam jejak filosofi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pengingat akan pentingnya introspeksi diri. (Amanda Dela)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.