MOJOKERTO - Jumlah pelajar di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto yang menjadi korban keracunan Soto ayam pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bertambah. Kali ini, jumlahnya mencapai 152 santri dan pelajar.
Saat ini tim gabungan dari Badan Gizi Nasional (BGN), Dinas Kesehatan dan kepolisian tengah melakukan investigasi. Kepala dapur dan petugas alih gizi telah diminta keterangan. Pemeriksaan untuk mengetahui apakah pembuatan menu Soto ayam sudah sesuai prosedur.
"Setelah kejadian tersebut, sejumlah pihak langsung diterjunkan ke lapangan, termasuk Dinas Kesehatan (Dinkes) dan kepolisian juga melakukan penelusuran apakah sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku," ujar Kepala Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Mojokerto, Rosidian Prasetyo, Minggu (11/1/2026).
Rosidian menegaskan, hingga saat ini belum dapat disimpulkan secara pasti penyebab dugaan keracunan tersebut. Menurutnya, jarak waktu antara penyajian makanan Progam MBG pada Jumat dengan munculnya gejala pada Sabtu pagi menjadi salah satu pertimbangan dalam proses investigasi.
Baca Juga : Jumlah Korban Keracunan Soto Ayam MBG di Mojokerto Capai 152 Pelajar
"Indikasi belum bisa kami simpulkan karena penyajian hari Jumat, sementara kejadian Sabtu pagi. Jarak waktunya cukup jauh, sehingga tidak bisa langsung disimpulkan dari makanan MBG," jelasnya.
Selain itu, ia menyebut para santri dan pelajar juga masih mengonsumsi makanan tambahan di luar program MBG, baik di rumah maupun di pondok pada siang hingga malam hari. Meski beberapa santri maupun pelajar mulai ada yang mengalami gejala mual, muntah, diare, demam dan pusing mulai Jumat sore.
"Anak-anak juga masih makan di rumah maupun pondok, jadi kami mohon kesabaran semua pihak. Dalam waktu dekat hasilnya akan keluar dan akan disampaikan oleh Dinas Kesehatan dan kepolisian," pungkasnya. (*)
Baca Juga : 17 Siswa SMPN 2 Kutorejo Mojokerto Alami Mual, Diduga Keracunan Menu MBG
Program MBG di Kecamatan Kutorejo menjangkau total 2.679 penerima manfaat yang tersebar di 20 sekolah. Dari jumlah itu, sebanyak tujuh sekolah dilaporkan terdampak kejadian dugaan keracunan. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















