NGAWI - Dampak musim kemarau di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, semakin meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi, saat ini sedikitnya 15 desa yang tersebar di tujuh kecamatan mengalami krisis air bersih.
Kekeringan tersebut melanda 19 dusun dengan total 715 kepala keluarga atau 1.884 jiwa yang terdampak. Kondisi ini membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi, Yudha Herlambang, mengatakan tujuh kecamatan yang terdampak kekeringan meliputi Kecamatan Ngawi, Pitu, Karanganyar, Kasreman, Bringin, Karangjati, dan Kedunggalar.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Ngawi bersama PMI, BBWS, dan sejumlah komunitas melakukan distribusi air bersih secara rutin.
“Distribusi air bersih kami lakukan dengan intensitas tiga sampai empat kali dalam sehari, bekerja sama dengan PMI, BBWS, dan beberapa komunitas. Ini untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak kekeringan.”
Sejak 2 Agustus hingga saat ini, BPBD Ngawi telah melakukan sebanyak 110 kali distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Setiap tangki air yang didistribusikan memiliki kapasitas antara 5.000 hingga 6.000 liter. Secara keseluruhan, air bersih yang telah disalurkan kepada masyarakat mencapai 606 ribu liter.
BPBD memastikan distribusi air akan terus dilakukan selama masyarakat masih mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Sementara itu, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Sedangkan musim hujan diperkirakan baru mulai sekitar November.
Kondisi tersebut membuat BPBD mengantisipasi kemungkinan bertambahnya wilayah yang mengalami krisis air bersih hingga musim hujan tiba.
Editor : JTV Madiun



















