SURABAYA - Menjelang Ramadan, harga sejumlah kebutuhan pokok di Jawa Timur mulai mengalami kenaikan. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia per 9 Februari 2026 di pasar tradisional, kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai, telur ayam ras, dan daging ayam.
Kenaikan signifikan tercatat pada komoditas cabai. Cabai rawit merah melonjak 17,53 persen menjadi Rp85.150 per kilogram. Cabai merah keriting naik 12,85 persen ke harga Rp36.000 per kilogram, sementara cabai rawit hijau meningkat 9,83 persen menjadi Rp48.050 per kilogram. Cabai merah besar juga mengalami kenaikan 6,14 persen ke level Rp29.400 per kilogram.
Harga bumbu dapur lainnya turut bergerak naik. Bawang merah ukuran sedang tercatat naik 7,38 persen menjadi Rp40.750 per kilogram, sedangkan bawang putih ukuran sedang naik tipis 0,45 persen ke harga Rp33.450 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas protein. Daging ayam ras segar naik 10,37 persen menjadi Rp40.450 per kilogram. Telur ayam ras segar tercatat meningkat 11,17 persen ke harga Rp30.350 per kilogram. Untuk daging sapi, daging sapi kualitas II naik tipis 0,13 persen menjadi Rp118.650 per kilogram, sementara daging sapi kualitas I relatif stabil dengan koreksi tipis ke Rp130.150 per kilogram.
Baca Juga : Harga Telur Ayam di Jember Mulai Turun, Telur Kampung Justru Naik
Pada kelompok beras, sebagian besar harga tercatat mengalami kenaikan ringan. Beras kualitas medium I naik 3,11 persen menjadi Rp14.900 per kilogram, medium II naik 4,66 persen ke Rp14.600 per kilogram, serta beras kualitas super I dan super II masing-masing naik menjadi Rp15.800 dan Rp15.400 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas bawah I dan II terpantau stabil di kisaran Rp13.550 dan Rp13.450 per kilogram.
Sebaliknya, penurunan harga tercatat pada komoditas gula. Gula pasir kualitas premium turun 1,11 persen menjadi Rp17.850 per kilogram, sedangkan gula pasir lokal turun tipis 0,3 persen ke harga Rp16.700 per kilogram. Pada komoditas minyak goreng, minyak goreng curah serta minyak goreng kemasan bermerek I dan II terpantau relatif stabil.
Editor : A. Ramadhan



















