TULUNGAGUNG - Pemerintah Kabupaten Tulungagung kembali membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan sejarah dan budaya lokal. Kesempatan tersebut dihadirkan lewat gelaran Pameran Museum Daerah Kabupaten Tulungagung Tahun 2026 yang menghimpun beragam koleksi langka dari berbagai daerah.
Pameran kebudayaan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 22 hingga 24 September 2026. Mengusung tema Ekspresi Seni dan Budaya: Jejak Sejarah, Identitas, dan Mahakarya, pameran tersebut menampilkan rentetan koleksi bernilai tinggi, seperti wayang, arca, artefak masa klasik, peninggalan masa perjuangan, hingga benda-benda bersejarah dari sektor pendidikan dan kebudayaan.
Menariknya, ajang ini tidak hanya memamerkan koleksi milik Museum Daerah Tulungagung semata. Kegiatan tersebut turut mempertemukan enam museum dan lembaga kebudayaan ternama. Beberapa di antaranya yakni Museum FIB Universitas Airlangga, Museum Anjuk Ladang Nganjuk, Museum Pendidikan Surabaya, serta Museum Surabaya. Keragaman koleksi lintas lembaga ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mempelajari perjalanan sejarah dari berbagai sudut pandang.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menyebut museum memiliki peran yang sangat mendasar dalam merawat, melestarikan, mengembangkan, serta mengenalkan warisan sejarah kepada publik. Menurutnya, bagi kalangan pelajar dan generasi muda, pameran semacam ini menjadi sarana belajar langsung yang interaktif melalui benda-benda bersejarah yang peninggalannya nyata.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung M. Ardian Candra menambahkan bahwa apresiasi terhadap museum perlu terus dipupuk. Sinergi antar-lembaga kebudayaan diharapkan mampu memantik minat masyarakat luas untuk bertandang ke museum.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung berharap kegiatan ini tidak sekadar berhenti saat masa pameran usai. Penguatan peran museum akan terus dilanjutkan melalui sinergi berkelanjutan antara pemerintah, pengelola museum, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas agar museum senantiasa berfungsi sebagai pusat edukasi, apresiasi budaya, serta pelestarian sejarah. (Beny Setiawan)
Editor : JTV Kediri



















