SURABAYA - Taman Bungkul Surabaya menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas melalui musik. Hal itu tampak kala komunitas Istana Karya Difabel (IKD) menggelar kegiatan bertajuk “Live Musik Istana Karya Difabel – Bersama Talenta Tanpa Batas”, Sabtu (26/9/2026).
Enam musisi difabel tampil memainkan musik dan bernyanyi bersama komunitas lainnya di hadapan masyarakat yang beraktivitas di kawasan Taman Bungkul. Pertunjukan musik tersebut menjadi salah satu ruang ekspresi bagi anggota IKD untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus membangun kepercayaan diri melalui seni.
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00 hingga 17.00 WIB ini sebenarnya merupakan jadwal penyanyi jalanan dari Dinas Pariwisata Surabaya atas nama The Lamkoar. Namun, kesempatan tampil tersebut sengaja diberikan kepada para musisi difabel binaan IKD.
Pendiri Istana Karya Difabel sekaligus pentolan The Lamkoar, Andy Setiawan alias Andy Elektrik, mengatakan kesempatan tersebut diberikan untuk membuka ruang bagi musisi difabel agar dapat tampil dan menunjukkan kemampuan mereka kepada masyarakat.
"Ini sebenarnya jadwal NIK penyanyi jalanan dari Dinas Pariwisata Surabaya atas nama The Lamkoar. Saya sengaja memberikan kesempatan ini untuk para musisi difabel, Istana Karya Difabel yang saya buat," kata Andy.
Enam personel yang tampil alam pertunjukan tersebut adalah Nakula (drum), Zahra (kibor), Brilian (bass), dan tiga vokalis Tania, Sadewa, dan Lisa. Mereka membawakan sepuluh lagu yangn seluruhnya merupakan karya sendiri, yaitu Letih, Bila Kau Tak Bersamaku, Bidadari, Lebih Berarti, Inklusi, Gelap dalam Gulita, Secuil Doa, Lamkoar, Kayu Mati, dan Energi Lidi.
Bagi Andy, kesempatan tampil di ruang publik bukan hanya soal pertunjukan musik. Panggung tersebut menjadi kesempatan bagi para musisi difabel untuk menunjukkan keterampilan dan karya mereka secara langsung kepada masyarakat.
Ia berharap masyarakat Surabaya dapat memberikan kesempatan yang sama kepada para musisi difabel dengan melihat kemampuan dan karya yang mereka hasilkan.
“Supaya semua masyarakat Surabaya bisa memandang sama dan memberikan kesempatan yang sama untuk para musisi difabel dalam sisi skill. Karena kita ada karena karya, bukan kesedihan,” ujarnya.
Andy juga berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat semakin membuka ruang apresiasi bagi musisi difabel, sehingga mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk tampil, menghibur masyarakat, sekaligus berkarya di bidang seni.
“Semoga pihak pemerintah Surabaya bisa membuka ruang apresiasi atau menambah kesempatan supaya musisi difabel lebih bisa menghibur dan bermanfaat untuk semua di bidang seni,” katanya.
Melalui panggung musik di Taman Bungkul, para musisi IKD ingin menunjukkan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berkarya. Kesempatan tampil dan apresiasi terhadap karya menjadi bagian penting untuk membangun ruang seni yang lebih inklusif di Surabaya. (*)
Editor : A. Ramadhan



















