SURABAYA - Dalam program diskusi "Dialog Khusus" yang tayang di JTV pada Senin (20/04/26), Jawa Timur kembali menegaskan posisinya sebagai benteng swasembada garam nasional. Jawa Timur menjadi produsen garam terbesar di Indonesia dengan kontribusi lebih dari 55 persen terhadap total produksi nasional. Potensi besar tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai daerah kunci dalam mewujudkan target swasembada garam pada tahun 2027.
Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan, menjelaskan bahwa kebutuhan garam nasional saat ini mencapai sekitar 5 hingga 6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri baru berkisar 2 juta ton saat musim normal sehingga masih terjadi defisit cukup besar.
“Kebutuhan garam secara nasional kurang lebih sekitar 5 sampai 6 juta ton. Produksi garam nasional baik PT Garam maupun garam rakyat hanya kalau musim normal di angka 2 juta sehingga masih ada defisit kurang lebih 3 sampai 4 juta ton setiap tahunnya,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi garam konsumsi rumah tangga, melainkan garam industri. Selama ini kebutuhan industri masih banyak dipenuhi melalui impor karena faktor kualitas.
Baca Juga : Jawa Timur Benteng Garam Nasional, Kontribusi 55 Persen dan Ambisi Swasembada Industri
“Untuk garam konsumsi kita sudah swasembada sejak lama. Tapi untuk garam industri, peluang bisnisnya masih sangat besar. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dan kolaborasi yang kuat antara PT Garam dan petani garam rakyat,” katanya.
Sebagai langkah percepatan, PT Garam mulai membangun sejumlah proyek berbasis teknologi modern, salah satunya menggunakan sistem Mechanical Vapor Recompression (MVR). Teknologi ini mampu mengolah air laut secara langsung menjadi garam industri berkualitas tinggi.
“Kalau kita hanya memproduksi secara konvensional memanfaatkan lahan yang ada saat ini, nonsens kita bisa menuntaskan target swasembada dari pemerintah. Jadi harus ada teknologi,” tegas Indra.
Kabupaten Sumenep di Madura menjadi salah satu wilayah utama produksi garam nasional. Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menyampaikan bahwa daerahnya terus mendukung pengembangan sektor garam melalui pendampingan kelompok petani dan bantuan teknologi.
“Pemerintah terus memberikan bantuan-bantuan dan pemberdayaan bagi seluruh petani garam, tetapi tetap melalui kelompok-kelompok koperasi dan sebagainya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kesejahteraan petani menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Menurutnya, keberadaan industri garam harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Semakin harganya bagus maka secara tidak langsung petani itu akan sejahtera. Itu yang paling penting bagi pemerintah daerah,” jelasnya.
Dari sisi industri makanan dan minuman, garam lokal memiliki peran vital sebagai bahan baku produksi. Pengurus GAPMMI Bidang Kerja Sama Luar Negeri, Iwan Winardi, mengatakan sektor industri siap menyerap garam lokal selama memenuhi standar mutu yang dibutuhkan.
“Kami siap meng-absorb input dari lokal melalui proses yang standar untuk bisa kami gunakan sehingga memberdayakan petani garam,” katanya.
Ia menambahkan, garam bukan sekadar pemberi rasa asin, tetapi juga berfungsi sebagai pengawet makanan dan bagian penting dari ketahanan pangan nasional.
Dengan dukungan teknologi, sinergi pemerintah daerah, serta kebutuhan industri yang terus meningkat, Jawa Timur diyakini mampu mempertahankan perannya sebagai benteng swasembada garam nasional menuju 2027. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















