SURABAYA - Jawa Timur semakin mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung produksi garam Indonesia. Dalam program “Jatim Joss - Obrolan Spesial Seputar Jawa Timur” yang tayang di JTV pada Senin (9/2/2026), terungkap bahwa realisasi produksi garam di Jawa Timur telah mencapai angka 1,2 juta ton per tahun. Jumlah tersebut setara dengan 55 persen dari total produksi nasional, yang menjadikannya kontributor utama dalam upaya mewujudkan swasembada garam nasional. Capaian ini didukung oleh optimalisasi lahan seluas lebih dari 15 ribu hektare yang tersebar di wilayah Madura, Gresik, Lamongan, Tuban, serta pesisir utara lainnya.
Keberhasilan peningkatan produktivitas ini dipengaruhi secara signifikan oleh adopsi teknologi geomembran yang kini telah menjangkau sekitar 90 persen petambak di Jawa Timur. Selain itu, pengoperasian unit pengolahan garam industri dengan kadar NaCl di atas 97 persen menjadi faktor penentu dalam meningkatkan kualitas hasil panen. Kabid KPD Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Timur, Awalrush Andira, menegaskan bahwa peran strategis daerah ini sangat vital. Menurutnya, Jawa Timur layak menyandang gelar sebagai benteng garam nasional karena dominasinya yang sangat kuat dalam menopang kebutuhan domestik.
Namun, upaya menuju swasembada penuh masih dibayangi oleh berbagai tantangan klasik, terutama anomali cuaca yang sering mengganggu proses kristalisasi garam. Meskipun volume produksi mendekati target, masih terdapat kesenjangan kualitas untuk memenuhi kebutuhan industri strategis seperti sektor farmasi dan klor-alkali. Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam Jawa Timur, Muhammad Hasan, menyoroti bahwa Indonesia sebenarnya sudah swasembada untuk garam konsumsi sejak 2012. Persoalan utama yang mendesak saat ini adalah standarisasi kualitas garam rakyat agar bisa masuk ke pasar industri, serta pembenahan tata niaga agar harga tidak anjlok di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) saat panen raya tiba.
Sejalan dengan hal tersebut, PT Garam yang memiliki lahan sekitar 5.000 hektare di Jawa Timur, menyambut positif terbitnya Perpres Nomor 17 Tahun 2025 sebagai momentum kebangkitan industri garam nasional. Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menyatakan bahwa regulasi baru ini bukan hanya sekadar penyelamat perusahaan, melainkan peluang besar untuk membangun ekosistem garam secara menyeluruh. Meskipun kapasitas produksi PT Garam dan garam rakyat di Jawa Timur terus tumbuh, selisih kebutuhan nasional yang mencapai 5,7 juta ton per tahun tetap menjadi pekerjaan rumah besar yang memerlukan perluasan lahan dan penguatan infrastruktur pengolahan.
Selain aspek produksi, stabilitas stok nasional juga sangat bergantung pada infrastruktur logistik dan ketersediaan gudang penyimpanan berkapasitas besar. Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong kolaborasi lintas sektor antara petani, BUMN, industri, akademisi, hingga perbankan untuk memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir. Melalui program sertifikasi mutu dan bimbingan teknis bagi petambak, diharapkan daya saing garam lokal dapat meningkat secara konsisten. Keberhasilan Jawa Timur sebagai pilar swasembada garam ke depan akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan mempercepat peningkatan kualitas produk di pasar internasional. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















