SURABAYA - Provinsi Jawa Timur resmi mengukuhkan posisinya sebagai barometer nasional dalam implementasi program Sekolah Rakyat di awal tahun 2026. Keberhasilan ini menjadi sorotan utama dalam program "Jatim Joss – Obrolan Spesial Seputar Jawa Timur" yang tayang di JTV pada 19 Januari 2026.
Hingga Januari 2026, Jawa Timur tercatat telah mengoperasikan 26 titik Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Jumlah ini merupakan yang terbanyak dibandingkan provinsi lain di Indonesia.
Lebih dari 2.400 siswa dari keluarga rentan (kategori desil 1 dan desil 2) kini mendapatkan akses pendidikan berasrama secara gratis. Program ini tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga penguatan karakter, keterampilan hidup (life skill), dan kemandirian sebagai strategi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi.
Rujukan Pendidikan Inklusif Nasional
Baca Juga : SMAN 19 Surabaya Sabet Predikat "Sekolah Keren", Sukses Gelar Senam Bersama dan Lomba Mukbang
Prestasi Jawa Timur semakin diperkuat dengan penghargaan kinerja pendidikan terbaik nasional tahun 2025 yang disaksikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 76,13, Jawa Timur kini menjadi rujukan nasional dalam penyediaan akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas.
Kepala Bidang Pemberdayaan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Firdaus Sulistiawan, menyebutkan bahwa capaian ini merupakan hasil komitmen kuat Gubernur Jawa Timur serta kolaborasi lintas sektor yang solid.
"Sekolah Rakyat ini tidak bisa berdiri sendiri. Kami bersinergi dengan Dinas Sosial kabupaten/kota mulai dari penyediaan sarana prasarana, rekrutmen calon siswa, hingga pendampingan orang tua," jelas Firdaus.
Baca Juga : 10 Tempat Tertua di Surabaya: Narasi Panjang Jejak Awal Kota Pahlawan
Proses seleksi siswa dilakukan secara ketat melalui pendataan PKH, verifikasi lapangan (ground checking), profiling calon siswa, hingga kunjungan rumah (home visit) guna memastikan kesiapan anak dan restu orang tua.
Model Pendidikan Holistik
Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Rasiyo, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian ini. Ia mencatat kontribusi besar Jatim terhadap total Sekolah Rakyat di Indonesia.
Baca Juga : Asal-Usul Bahasa Suroboyoan: Terasa Kasar Tapi Jujur
"Dari 166 Sekolah Rakyat se-Indonesia, 26 titik berada di Jawa Timur dengan total 2.459 siswa. Ini pencapaian luar biasa yang harus kita jaga keberlanjutannya," ungkap Rasiyo.
Menurutnya, Sekolah Rakyat mengusung konsep pendidikan holistik melalui empat pilar: Olah Hati (iman dan takwa), Olah Pikir (akademik), Olah Rasa (sosial dan seni), serta Olah Raga (kesehatan). Sistem berasrama dinilai sangat efektif dalam membentuk kedisiplinan dan kemandirian siswa.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) XXI Surabaya, Prapti Wardani, mengungkapkan perubahan signifikan pada para siswa setelah satu semester berjalan.
Baca Juga : Lahan Parkir Ambles, Dua Mobil Tercebur ke Sungai Arif Rahman Hakim Surabaya
"Anak-anak yang awalnya sulit disiplin, sekarang sudah terbiasa salat tepat waktu dan lebih percaya diri. Banyak orang tua yang terkejut melihat perubahan positif anak mereka saat libur semester," kata Prapti.
Dukungan Psikologis dan Vokasi
Dari sudut pandang pakar, Psikolog sekaligus Kepala Bidang Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran UNTAG Surabaya, Dr. Isrida Yul Arifiana, menilai Sekolah Rakyat berhasil menciptakan iklim psikologis yang positif.
Baca Juga : Jatim Jadi Barometer Nasional, Program Sekolah Rakyat Sukses Putus Rantai Kemiskinan
"Kombinasi Kurikulum Merdeka dengan pembiasaan karakter membuat anak berkembang optimal secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik," jelasnya. Ia pun merekomendasikan penambahan tenaga psikolog ke depannya untuk asesmen bakat yang lebih terarah.
Tak hanya soal ijazah, Dinas Sosial Jatim juga membekali siswa dengan program vokasi. Bekerja sama dengan BLK, Dinas Tenaga Kerja, dan dunia usaha, para siswa diajarkan keterampilan seperti hidroponik hingga pengenalan dunia industri.
"Tujuannya bukan untuk mempekerjakan anak, tetapi membekali mereka dengan keterampilan dan pengalaman nyata," tegas Firdaus.
Melalui program ini, Pemprov Jatim berharap lulusan Sekolah Rakyat mampu melanjutkan ke perguruan tinggi atau terserap di dunia kerja. Langkah ini menegaskan keberpihakan negara terhadap anak-anak dari kelompok rentan demi menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 dari akar rumput. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















