KEDIRI - Bulan Ramadan membawa berkah melimpah bagi para penjual takjil di kawasan Pare, Kabupaten Kediri. Salah satu jajanan yang menjadi primadona dan diserbu pembeli menjelang waktu berbuka puasa adalah kue apang, kuliner tradisional khas Sulawesi Selatan.
Kue apang panas khas Bugis ini diperkenalkan oleh Ina, pemilik lapak Kue Apang Panas Bugis Antina 99. Berlokasi di Jalan PB Sudirman, Dusun Plongko, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, lapak ini menjadi jujukan warga yang mencari alternatif takjil selain gorengan dan es buah.
Ina mengaku ide berjualan kue ini berawal dari pengalamannya merantau di tanah Bugis. Di sana, ia belajar langsung dari keluarganya yang merupakan warga asli Sulawesi untuk mendapatkan formula rasa yang autentik.
"Apang Bugis dari Sulawesi Selatan ini teksturnya lembut. Kalau orang sini (Jawa) bilangnya mirip kue apem. Sebenarnya, apang ini perpaduan antara kue mangkok dan bolu kukus dengan bahan utama tepung beras," jelas Bu Ina, sapaan akrabnya.
Rahasia Rasa: Tetap Hangat dalam Panci Jumbo
Sudah sekitar empat tahun Ina menekuni usaha ini. Perlahan namun pasti, kue apang panas buatannya mulai dikenal luas dan memiliki pelanggan setia, terutama saat momentum Ramadan.
Untuk menjaga kualitas rasa, Ina memiliki teknik khusus. Ia selalu menyimpan kue apang di dalam panci berukuran jumbo agar suhu tetap terjaga. Sensasi hangat inilah yang membuat kue apang semakin nikmat saat disantap sebagai hidangan pembuka puasa.
Omzet Meningkat Saat Ramadan
Pada hari biasa, Ina rata-rata menghabiskan sekitar 5 kilogram adonan. Namun, saat akhir pekan atau selama bulan Ramadan, permintaannya melonjak drastis hingga 20 kilogram per hari.
Bersama sang suami, Ina mampu menjual sekitar 50 hingga 100 bungkus setiap harinya. Satu porsi kue apang berisi tujuh biji dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp10.000.
Kehadiran kue apang panas khas Bugis ini memberikan warna baru di tengah ragam takjil yang ada di Pare. Perpaduan cita rasa tradisional dan kehangatan sajiannya menjadikannya teman favorit bagi warga Kediri untuk membatalkan puasa. (Nata Renata)
Editor : Iwan Iwe



















