TRENGGALEK - Penguatan ketahanan pangan di Jawa Timur terus dilakukan. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai keberadaan gudang filial Bulog di wilayah selatan Jatim menjadi bagian penting dalam memperkuat jaringan logistik sekaligus menjaga ketersediaan pangan.
Hal itu disampaikan Emil saat meresmikan Gudang PT Mutual Pangan Utama Filial Bulog KP Karangsoko di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Senin (10/8).
Emil mengatakan stok beras Jawa Timur saat ini menjadi salah satu penopang cadangan beras nasional. Aktifnya Perum Bulog menyerap gabah dan beras dari petani membuat stok beras di Jawa Timur mendekati 2 juta ton.
Jumlah tersebut disebut menyumbang sekitar seperempat dari total cadangan beras nasional yang kini telah menembus 5 juta ton.
Menurut Emil, besarnya cadangan pangan harus diimbangi dengan sarana dan prasarana logistik yang memadai. Salah satunya melalui penguatan kapasitas penyimpanan di daerah, terutama kawasan selatan Jawa Timur.
“Cadangan pangan yang besar harus didukung jaringan logistik yang kuat. Karena itu, keberadaan gudang di wilayah selatan Jawa Timur menjadi sangat penting,” ujar Emil.
Gudang PT Mutual Pangan Utama Filial Bulog KP Karangsoko dinilai menjadi salah satu bagian dari penguatan jaringan tersebut. Terlebih, Trenggalek berada di kawasan selatan Jawa Timur yang memiliki potensi produksi pertanian cukup besar.
Di sisi lain, Emil turut menyoroti perkembangan harga gabah di sejumlah wilayah. Saat ini, harga gabah bahkan telah berada di atas Rp 8 ribu per kilogram.
Menurutnya, harga gabah yang tinggi memberikan keuntungan bagi petani. Namun, pemerintah tetap harus memastikan kenaikan harga di tingkat produsen tidak berujung pada lonjakan harga beras yang membebani konsumen.
Pemerintah, kata Emil, ingin kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga pangan berjalan beriringan. Stabilitas harga menjadi penting agar peningkatan harga gabah tidak ikut mendorong inflasi.
Cadangan pangan yang kuat menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mengendalikan inflasi. Apalagi Jawa Timur tidak hanya memenuhi kebutuhan beras di wilayah sendiri, tetapi juga memasok daerah lain yang mengalami defisit.
Data Perum Bulog Jawa Timur menunjukkan realisasi penyerapan gabah hingga 9 Agustus 2026 telah mencapai 927 ribu ton. Angka tersebut sudah melampaui target semester pertama yang ditetapkan sebesar 883 ribu ton.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jawa Timur Langgeng Wisnu Adinugroho mengatakan meski target telah terlampaui, proses penyerapan gabah akan terus dilakukan. Langkah tersebut untuk memastikan ketersediaan stok tetap aman sekaligus menyerap hasil panen petani.
“Penyerapan terus kami lakukan. Ekosistem yang terbentuk selama dua tahun terakhir, ditambah sosialisasi yang semakin masif, membuat petani semakin memahami program penyerapan Bulog,” jelas Langgeng.
Dari sisi penyimpanan, Bulog Jawa Timur saat ini memiliki 352 gudang milik sendiri dan 269 gudang sewaan. Total kapasitas penyimpanannya mendekati 2 juta ton.
Sementara posisi stok beras Bulog Jawa Timur saat ini berada di kisaran 1,3 juta ton. Jumlah tersebut setara sekitar 25 persen dari stok beras nasional.
Dengan stok tersebut, Jawa Timur tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri. Bulog Jatim juga telah menyalurkan beras ke 16 provinsi, di antaranya Papua, Riau, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.
Untuk mengantisipasi peningkatan produksi pada musim panen berikutnya, Bulog Jatim masih membuka peluang penambahan kapasitas gudang. Penambahan dapat dilakukan melalui penyewaan gudang milik swasta maupun pemerintah daerah sesuai kebutuhan.
Terlebih jika hasil panen kedua meningkat signifikan. Bulog akan menambah gudang sewa apabila kapasitas penyimpanan yang tersedia tidak lagi mencukupi.
Secara nasional, Bulog juga merencanakan pembangunan 100 unit gudang baru. Pembangunan dijadwalkan mulai Agustus 2026, meski belum seluruh gudang diperkirakan dapat digunakan hingga akhir tahun.
Dalam proses pengadaan, Bulog juga menyerap gabah dengan berbagai kualitas. Gabah yang diterima selanjutnya diproses melalui penggilingan untuk menghasilkan beras sesuai standar operasional prosedur pemerintah.
Penguatan kapasitas gudang dan penyerapan gabah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dengan masyarakat sebagai konsumen, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (Moch. Herlambang)
Editor : JTV Kediri



















