NGAWI - Surutnya volume air waduk saat musim kemarau dimanfaatkan warga untuk mengolah lahan menjadi area pertanian. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian atau DKPP Ngawi mencatat luas lahan pertanian pasang surut di sekitar waduk mencapai kurang lebih 100 hektare.
Sejumlah warga di tepi aliran Waduk Pondok memanfaatkan surutnya debit air untuk bercocok tanam. Berbagai komoditas ditanam, mulai dari padi, jagung, kacang-kacangan hingga tembakau.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DKPP Ngawi, M. Hasan Zunairi, mengatakan terdapat lima desa yang warganya memanfaatkan lahan waduk saat musim kemarau. Kelima desa tersebut yakni Desa Suruh, Gandong, Kenongorejo, Dampit, dan Sumber Bening, Kecamatan Bringin.
Dari total lahan yang dimanfaatkan, sekitar 45 hektare ditanami padi, 50 hektare jagung, sementara sekitar 5 hektare lainnya digunakan untuk tanaman kacang dan tembakau.
Meski bisa dimanfaatkan untuk menambah hasil pertanian, produktivitas lahan pasang surut diakui tidak terlalu tinggi. Untuk tanaman padi, misalnya, hasil panen rata-rata hanya sekitar 4 hingga 4,5 ton per hektare.
Pemanfaatan lahan ini juga memiliki keterbatasan karena hanya dapat dilakukan ketika volume air waduk surut, terutama saat musim kemarau.
M. Hasan Zunairi menambahkan, lahan pertanian pasang surut tersebut telah terdata oleh DKPP Ngawi. Dengan demikian, para petani tetap berkesempatan mendapatkan bantuan pertanian, seperti pupuk dan benih.
Selain memanfaatkan lahan di sekitar aliran waduk, sebagian warga juga menggarap lahan yang berada di bagian atas area waduk. Kondisi tersebut membuat lahan yang sebelumnya tergenang saat volume air tinggi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian ketika musim kemarau.
Editor : JTV Madiun



















