TUBAN - Suasana khidmat menyelimuti kompleks pemakaman Sunan Bonang di Kelurahan Kutorejo, Kabupaten Tuban, selama bulan Ramadan. Kawasan cagar budaya nasional ini tak pernah sepi dari aktivitas warga. Tepat selepas salat Zuhur, sejumlah pengurus makam mulai bahu-membahu menyiapkan tradisi memasak tahunan: pembuatan Bubur Suro atau yang akrab disapa warga sebagai Bubur Bonang.
Bubur gurih dengan racikan bumbu kebuli kaya rempah—perpaduan budaya Jawa dan Timur Tengah—ini menjadi takjil favorit yang selalu diburu setiap Ramadan. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun sejak puluhan tahun silam dengan tujuan mulia: memastikan musafir, peziarah, hingga warga kurang mampu dapat menikmati hidangan berbuka puasa secara gratis.
Resep Warisan dan Proses Tradisional
Bubur Suro Bonang memiliki kekhasan tersendiri. Selain racikan bumbu yang dijaga ketat orisinalitasnya, bahan-bahan seperti beras, santan kental, potongan daging, serta tulang sapi menjadi elemen penting di dalamnya. Semua bahan dimasukkan ke dalam kawah (wajan besar) dan dimasak selama kurang lebih dua jam hingga menghasilkan aroma wangi yang menggugah selera.
Baca Juga : Bubur Suro Sunan Bonang: Kuliner Legendaris Tuban Berusia Hampir Seabad yang Dinanti Tiap Ramadan
Proses memasaknya pun masih dilakukan secara tradisional, mulai dari memarut kelapa secara manual hingga penggunaan kayu bakar untuk menjaga cita rasa autentik. Selama dua jam penuh, adonan harus terus diaduk tanpa henti agar mencapai tekstur lembut yang sempurna.
Lazim, salah satu peracik Bubur Suro, menuturkan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1937. Awalnya, kegiatan ini diprakarsai oleh keluarga Al-Hamid sebelum akhirnya diserahkan kepada warga Tuban untuk terus dijaga kelestariannya.
“Setiap Ramadan kami memasak. Sehari bisa menghabiskan 12 sampai 13 kilogram bahan, lalu dibagikan kepada pengunjung dan warga,” ujarnya.
Simbol Kepedulian Sosial
Tradisi yang hampir berusia satu abad ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Di tengah kompleks makam, Bubur Suro menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian sosial. Menjelang waktu berbuka, ratusan warga mulai dari anak-anak hingga lansia berbaris rapi membawa wadah masing-masing.
Salah satu warga, Achmad Taufik, mengaku rela mengantre sejak pukul 14.30 WIB demi mendapatkan seporsi bubur khas tersebut.
“Saya suka karena rasanya sangat khas dan tidak dijumpai di tempat lain. Rempah-rempahnya kuat dan memberi rasa hangat di perut,” ujar Taufik sambil menunjukkan wadah berisi Bubur Suro miliknya. (*)
Editor : Iwan Iwe

















