SURABAYA - Di lahan seluas 250 meter persegi, Mega Siswindarto memulai usaha keripik bronis Bronchips miliknya. Rumah produksi yang terletak di Babatan, Kecamatan Wiyung, Surabaya itu, kini bisa menghasilkan produk dengan omzet 30-36 juta rupiah per harinya.
Pencapaian ini tidak didapat dengan mudah. Mega memutuskan berhenti bekerja sejak 2011 dan memilih untuk mengambil berbagai kursus seperti makanan, baking, roti, kue tart, hingga kursus kue kotakan.
Pada awalnya, Mega membuat dan menjual semua yang dipelajari saat kursus. Di waktu yang sama, ia melakukan survei untuk mengetahui produk makanan apa yang cocok untuk dikembangkan.
"Saya pergi ke rumah sakit, bandara, stasiun. Hampir semua orang yang bawa oleh-oleh itu ya buah-buahan atau bronis kukus. Nah, dari situ kepikiran untuk bikin bronis yang beda, bronis beku hingga panggang," papar pria yang memulai tekadnya di usia 25 tahun itu.
Baca Juga : Komunitas Rider BMX Surabaya Gelar Ngabuburide untuk Sosialisasi Olahraga Ekstrem
Singkat cerita, trialnya untuk mengembangkan usaha bronis panggang berhasil. Saat itu sistem penjualannya masih open pre-order (PO) setiap dua hari sekali.
Namun sayangnya, pada tahun 2015 usahanya mulai stagnan dan omsetnya makin turun. Saat itu, dia menanyakan kepada para customer, reseller, dan distributor, apa yang menjadikan permintaan bronis panggangnya menurun.
"Saya cukup kaget karena katanya bronis kita sudah kalah saing dengan kompetitor baru yang murah, ukurannya besar, dan kemasannya bagus. Ada juga yang bilang kalau bronis kita enggak tahan lama dan terlalu manis," imbuhnya.
Baca Juga : Omah Tua Coffee And Library: Cafe Tersembunyi dengan Sentuhan Sejarah dan Literasi
"Mungkin juga pasarnya sudah jenuh ya, makanya mereka memilih enggak lagi beli produk kita," tambahnya.
Dari produk yang tidak tahan lama, terlalu manis, dan kemasan yang kurang menarik, akhirnya Mega menemukan produk yang menutup semua permasalahan itu yakni keripik bronis bronchips.
Produk yang diluncurkan tahun 2016 ini mendapatkan respons yang sangat bagus. Menurut pria yang sedang menuju usia kepala empat ini, produknya bisa melejit karena saat itu belum ada bronis seperti miliknya.
Baca Juga : Disperpusip Jatim Pamerkan Literatur Karya Ulama Nusantara di Masjid Al-Akbar Surabaya
Mega juga ditemani sang istri untuk memperluas usahanya. Dia yang bertanggung jawab untuk urusan produksi, sementara sang istri bertanggung jawab untuk pemasaran dan branding produk.
Mega sangat yakin usaha ini bisa mengangkat dirinya di masa depan. Selain itu, yang jadi motivasi untuk terus memperluas usaha adalah bermanfaat untuk dirinya sendiri dan keluarga.
"Setelah berkembang hingga sebesar ini, kita mau bisnis ini bermanfaat bagi banyak orang, nambah jumlah karyawan, bahkan menyenangkan customer dengan produk kita," ujarnya.
Baca Juga : Taman Flora Surabaya: Destinasi Wisata dan Taman Edukasi Ramah Anak
"Teman-teman UMKM di luar sana, terus semangat. Kalian pasti bisa melewati tantangan-tantangan dari setiap liga-liga bisnis yang kalian hadapi, karena setiap masalah pasti ada solusinya," tandas pria yang kini memiliki 27 karyawan tersebut.
Editor : A.M Azany