SURABAYA - Puasa Ramadan adalah ibadah yang sangat berarti bagi umat Muslim. Bagi orang dengan diabetes melitus atau diabetisi, menjalankannya membutuhkan perhatian ekstra. Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi karena tubuh mengalami gangguan dalam memproduksi atau penggunaan insulin, sehingga kadar gula darah sulit terkontrol. Oleh karena itu, penggunaan obat diabetes selama puasa perlu diatur dengan baik agar ibadah tetap lancar tanpa menimbulkan masalah kesehatan.
Menurut data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF), jumlah diabetisi di dunia mencapai 463 juta orang dan diperkirakan melonjak hingga 700 juta pada tahun 2045. Lonjakan terbesar diprediksi terjadi di kawasan dengan populasi Muslim besar, seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.
Puasa Ramadan memiliki sejumlah efek fisiologis terhadap proses keseimbangan metabolisme dan sistem endokrin. Pada diabetisi, perubahan tersebut serta jenis obat yang digunakan untuk mengendalikan penyakit dapat berkaitan dengan kejadian hipoglikemia maupun hiperglikemia.
Diabetisi menghadapi tantangan khusus selama Ramadan, karena mereka perlu memantau kadar gula darah dan penggunaan insulin secara konsisten. Sebelum mulai berpuasa, sebaiknya para diabetisi berkonsultasi dulu dengan dokter. Puasa bisa mempengaruhi tubuh dengan berbagai cara, sehingga obat mungkin perlu diatur ulang.
Sangat penting bagi diabetisi untuk mengetahui tanda-tanda hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) dan hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi) untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman.
Jika anda menggunakan insulin atau obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia misalnya glibenklamid, pastikan anda mengenali tanda dan gejalanya. Bila gejala hipoglikemia muncul, anda harus segera membatalkan puasa dan menanganinya seperti biasanya. Tanda-tanda hipoglikemia diantaranya adalah berkeringat, gemetar, denyut nadi cepat, detak jantung meningkat, mudah marah, cemas, pusing, kesemutan pada bibir, lelah. Dalam studi CREED, sekitar 9% peserta mengalami setidaknya satu episode hipoglikemia.
Sementara itu, dalam survei DAR Global, 1 dari 8 peserta (12,5%) harus menghentikan puasanya, dan di antara mereka yang mengalami hipoglikemia (15,7%), lebih dari separuh (58%) terpaksa membatalkan puasa.
Sedangkan bila anda mengalami kelelahan yang sangat parah, rasa haus berlebihan, sakit kepala, penglihatan kabur, napas beraroma buah, serta sering buang air kecil bisa menjadi tanda kadar gula darah tidak terkendali.
Risiko lain yang perlu dikenali oleh diabetisi yang menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah dehidrasi. Tanda yang perlu diperhatikan adalah rasa haus berlebihan, berkurangnya frekuensi buang air kecil, serta mulut, bibir, dan kulit yang terasa kering.
Penyesuaian jadwal minum obat perlu diperhatikan pada diabetisi yang berpuasa. Obat oral yang diminum dua kali sehari (misalnya metformin) dapat diminum saat sahur dan berbuka. Metformin aman diminum pada waktu biasa, karena tidak menimbulkan risiko gula darah rendah. Sedangkan obat oral yang diminum sekali sehari (misalnya glimepiride dosis tunggal) biasanya diberikan saat berbuka agar efeknya bekerja sepanjang malam. Pada penggunaan insulin, dosis dan waktu penyuntikan perlu dikonsultasikan kepada dokter anda. Insulin kerja panjang bisa diberikan saat sahur, sedangkan insulin kerja cepat diberikan menjelang berbuka.
Penggunaan obat diabetes saat puasa Ramadan harus disesuaikan dengan jadwal makan, jenis obat, dan kondisi masing-masing individu. Konsultasi dengan dokter sangat penting untuk dilakukan sebelum Ramadan untuk mengetahui apakah puasa aman bagi kondisi Anda. Jika kondisi tidak memungkinkan, Islam memberikan keringanan agar kesehatan tetap menjadi prioritas. (*)
Penulis:
Yunita Nita, Guru Besar Bidang Farmasi Praktis, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
Editor : A. Ramadhan



















