JOMBANG - Seminggu pasca banjir yang merendam ratusan rumah di Desa Jombok dan Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, dampak kesehatan mulai dirasakan para pengungsi. Sejumlah warga yang bertahan di posko pengungsian di Balai Desa Jombok mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari gatal-gatal hingga hipertensi akibat kurang tidur. Anak-anak juga mulai mengalami demam.
Menurut Noormalita Eka Putri, anggota tim medis di posko penanganan banjir, banyak pengungsi yang mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang tidak nyaman.
"Keluhan paling banyak di pengungsian ini tidak bisa tidur, yang kedua gatal-gatal. Untuk lansia sendiri setelah kita melakukan pengecekan tekanan darah banyak yang darah tinggi karena faktor kurang tidur itu tadi," ujarnya.
Selain itu, tim medis juga menemukan anak-anak yang mulai menderita demam. Mereka berencana memperluas pemeriksaan kesehatan dengan berkeliling ke rumah warga yang bertahan di lokasi banjir.
"Terus nanti rencananya kita mau keliling buat melihat kondisi yang kebanjiran, barangkali ada yang belum dievakuasi atau di sana banyak korban," tambah Noormalita.
Banjir yang melanda wilayah ini sejak Jumat malam, 6 Desember 2024, disebabkan oleh tingginya curah hujan yang membuat Sungai Avour Watudakon meluap. Ratusan rumah di Desa Jombok dan Kesamben terendam air hingga memaksa warganya mengungsi.
Sementara itu, puluhan relawan bersama petugas terus bergotong royong untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi, seperti menyediakan makanan dan memantau kesehatan. Pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan tidak ada kondisi serius yang terlewat.
Meski sebagian warga memilih bertahan di rumah mereka yang masih terendam, tim medis dan petugas diimbau tetap waspada dan siaga terhadap kemungkinan munculnya penyakit lainnya, terutama di tengah kondisi lingkungan yang kurang higienis. (Saiful Mualimin/Dhelfia Ayu)
Editor : Iwan Iwe