PROBOLINGGO - Suasana berbeda terlihat di kawasan wisata Gunung Bromo, Jawa Timur. Jika biasanya wisatawan memadati kawasan kaldera dan menggunakan jasa ojek kuda untuk menuju kawah, kini aktivitas tersebut terhenti akibat kebakaran yang melanda kawasan Bromo.
Sudah sembilan hari kawasan Bromo terbakar. Empat pintu masuk kawasan wisata ditutup total demi keselamatan wisatawan dan mendukung proses pemadaman.
Dampaknya dirasakan langsung oleh para pelaku jasa wisata. Salah satunya para pengojek kuda yang selama ini menggantungkan penghasilan dari wisatawan.
Salah satu pengojek kuda, Rusnadi (32), warga Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, kini tidak lagi bisa mengantarkan wisatawan menuju kawah Bromo.
Baca Juga : Yadnya Kasada 2026, Bromo Ditutup Tiga Hari dan Dua Dukun Pandita Bakal Dikukuhkan
"Sejak Bromo ditutup, ya tidak bisa kerja. Biasanya mengantar wisatawan dari kaldera ke kawah," ujar Rusnadi.
Kini, rutinitas Rusnadi lebih banyak dihabiskan dengan merawat kuda. Ia harus tetap memberikan pakan, membersihkan kandang, dan memastikan kondisi kudanya tetap sehat meski tidak digunakan untuk mengangkut wisatawan.
"Kalau sekarang ya paling memberi makan kuda, merawat kuda. Karena tidak ada wisatawan yang bisa diantar," katanya.
Bagi Rusnadi, kuda bukan sekadar hewan yang harus dirawat. Kuda tersebut merupakan bagian dari mata pencahariannya.
Dalam kondisi normal, Rusnadi bisa memperoleh hasil sekitar Rp400 ribu dalam sehari dari jasa ojek kuda. Namun, uang tersebut bukan sepenuhnya menjadi pendapatannya karena ia bekerja dengan sistem bagi hasil bersama pemilik kuda.
"Kalau normal bisa sekitar Rp400 ribu sehari. Itu masih dibagi dengan pemilik kuda," ungkapnya.
Sejak kawasan Bromo ditutup, penghasilan tersebut otomatis berhenti. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Rusnadi pun terpaksa mencari pekerjaan lain.
"Untuk sementara ya kerja serabutan. Kalau ada pekerjaan tani, ikut jadi buruh tani," ujarnya.
Sebagai kepala keluarga dengan dua anak, kondisi tersebut tentu tidak mudah. Kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi, sementara sumber penghasilan utama dari jasa ojek kuda tidak bisa berjalan.
"Namanya Bromo ditutup, ya penghasilan juga tidak ada. Tapi bagaimana lagi, yang penting kebakaran segera dipadamkan," kata Rusnadi.
Meski terdampak secara ekonomi, Rusnadi mengaku memahami keputusan penutupan kawasan Bromo. Ia menyadari keselamatan wisatawan dan upaya pemadaman kebakaran menjadi hal yang lebih utama.
"Kami memahami Bromo ditutup karena ada kebakaran. Petugas juga masih berusaha memadamkan api," tuturnya.
Ia berharap kondisi Bromo segera kembali aman sehingga aktivitas pariwisata dapat dibuka kembali.
"Harapannya api cepat padam, Bromo kembali aman, wisatawan bisa datang lagi, dan kami bisa bekerja lagi," harap Rusnadi.
Ratusan ojek kuda terdampak
Tidak hanya Rusnadi, penutupan kawasan Bromo turut berdampak terhadap ratusan pelaku jasa ojek kuda yang selama ini melayani wisatawan.
Ojek kuda menjadi salah satu layanan yang banyak digunakan wisatawan untuk menempuh perjalanan dari kawasan kaldera menuju kawah Bromo.
Saat kondisi normal, aktivitas ojek kuda terlihat ramai mengikuti kunjungan wisatawan. Namun sejak kawasan wisata ditutup, kuda-kuda yang biasanya digunakan mengantar wisatawan kini lebih banyak berada di kandang.
Para pelaku jasa wisata hanya dapat merawat dan memberi pakan ternak, sembari menunggu kawasan Bromo kembali dibuka.
Bagi mereka, semakin lama penutupan berlangsung, semakin panjang pula waktu mereka harus kehilangan penghasilan dari aktivitas wisata.
Dua titik api masih terbakar
Sementara itu, hingga Selasa sore, kebakaran di kawasan Bromo masih belum sepenuhnya padam.
Masih terdapat dua titik api yang terpantau membakar kawasan Bromo. Titik tersebut berada di kawasan P30, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta kawasan Dingklik, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Kondisi tersebut membuat aktivitas wisata di kawasan Bromo masih ditutup.
Penutupan bukan hanya membuat wisatawan harus menunda kunjungan, tetapi juga membuat masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata ikut kehilangan pendapatan.
Bagi para ojek kuda seperti Rusnadi, satu-satunya harapan kini adalah kebakaran segera berhasil dipadamkan, kawasan Bromo kembali aman, dan roda pariwisata kembali bergerak. Termasuk kuda-kuda yang kini hanya menunggu di kandang, hingga waktunya kembali mengantar wisatawan menuju kawah Bromo. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















