NGAWI - Musim kemarau dengan cuaca yang cukup panas justru menjadi berkah bagi pembudidaya bunga bougenville atau bunga kertas. Salah satunya Widianto, warga Desa Hargosari, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, yang mendapatkan penghasilan tambahan dari budidaya tanaman hias tersebut.
Selain bekerja di ladang, setiap hari Widianto merawat ratusan tanaman bougenville dengan berbagai jenis. Saat musim kemarau, tanaman ini memasuki masa berbunga sehingga area di belakang rumahnya tampak dipenuhi warna-warni bunga bougenville yang bermekaran.
Usaha yang berawal dari hobi tersebut kini berkembang menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya. Widianto tidak hanya membudidayakan varietas lokal, tetapi juga sejumlah varietas impor dengan beragam corak daun dan warna bunga.
Menurut Widianto, budidaya bunga bougenville relatif mudah. Tanaman ini tidak membutuhkan lingkungan yang terlalu basah serta relatif minim hama dan penyakit. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan stek batang, sedangkan untuk menghasilkan beberapa warna dalam satu pohon dapat menggunakan teknik sambung pucuk atau grafting.
Baca Juga : Kontes Anthurium Kediri Raya Sedot Antusiasme Warga, Puluhan Tanaman Hias Adu Keindahan
Meski perawatannya relatif sederhana, budidaya bunga kertas memiliki nilai ekonomi. Tanaman ini juga dapat dibentuk menjadi bonsai sehingga memiliki nilai jual yang beragam.
Di tempat Widianto, harga bunga bougenville bervariasi. Bibit jenis lokal dibanderol mulai Rp5 ribu per pot, sedangkan bibit varietas impor dijual mulai Rp25 ribu hingga ratusan ribu rupiah per pot.
Pada musim kemarau, penjualan bibit bunga kertas dapat menghasilkan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan, di luar penjualan tanaman yang sudah jadi. Pemasarannya tidak hanya di Ngawi, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta beberapa daerah di luar Jawa.
Editor : JTV Madiun



















