Di tengah deru pembangunan dan riuh janji peradaban, ada satu hal yang tengah terlupa: manusia sejatinya hanyalah musafir yang melangkah dengan penerangan yang sangat terbatas. Kita hidup di masa ketika segala sesuatu diukur dari kecepatan, kecanggihan daya reka, dan tumpukan angka-angka yang megah. Namun, jika kita bersedia menepi sejenak dari keriuhan itu dan mengheningkan cipta, tampak jelas betapa bersahajanya seluruh pengetahuan yang kita banggakan. Seberapapun luasnya daya pikir dan kepintaran manusia, ia hanyalah laksana satu titikan embun di ujung daun, sementara kebenaran yang sejati membentang bagaikan samudera tanpa tepi. Seluruh pemahaman yang berhasil kita rangkai hanyalah sekadar izin kecil yang dibiarkan untuk tersingkap, agar kita belajar merunduk, bukan mendongak.
Kesadaran akan keterbatasan inilah yang dahulunya menjadi napas utama para pendahulu dalam mengasuh tradisi dan menuntun umat. Mereka mendidik dengan kelembutan, memimpin dengan rasa takut akan kesalahan, serta menyikapi perbedaan dengan lapang dada. Sayangnya, ingatan akan hakikat diri yang kerdil ini kian terkikis dari ruang-ruang pengelolaan berbangsa. Ketika orang tidak lagi merasa sebagai penerima titipan melainkan penguasa mutlak atas kebenaran, maka kepintaran yang tidak diimbangi dengan kebenaran sikap hanya akan menjelma menjadi ketajaman yang melukai sesama.
Menguatnya Kesombongan Penataan
Melihat panggung penataan publik hari ini, kita kerap disuguhi oleh penampilan yang penuh dengan ketidakpastian. Para pengelola urusan warga, dalam hal ini birokrat, hadir dengan bahasa-bahasa yang menuntut penyerahan total, seolah-olah jalan yang mereka bentangkan adalah satu-satunya lorong menuju keselamatan. Pembangunan dirancang dari balik meja-meja tinggi, jauh dari debu jalanan dan bau tanah tempat rakyat kecil mengadu nasib. Ada kesan bahwa mereka yang duduk di kursi keputusan merasa paling tahu apa yang dibutuhkan oleh setiap jiwa, tanpa perlu lagi duduk melingkar untuk mendengar.
Gaya pimpin yang demikian tentu jauh dari warisan contoh yang dicatatkan oleh sejarah para penuntun terdahulu. Dalam rekam jejak mereka yang dipenuhi keheningan jiwa, seorang pemimpin justru akan gemetar ketika diberi amanah, sebab ia paham betul betapa beratnya mempertanggungjawabkan setiap jengkal langkah di hadapan Sang Pemilik Kehidupan kelak. Ketika menghadapi persoalan rumit, para pendahulu tidak tergesa-gesa memamerkan kepintaran, melainkan memperbanyak jeda untuk menimbang, mawas diri, dan memohon petunjuk dari Yang Maha Mengetahui.
Ketika kerendahan hati itu meluas dari ruang kepemimpinan, kebijakan tidak lahir sebagai hukum yang menekan, melainkan sebagai payung yang mengayomi. Sebaliknya, ketika rasa merasa paling tahu telah menguasai dada, kritik yang tulus dianggap sebagai gangguan, dan jeritan warga yang kehilangan ruang hidup dinilai sebagai ketidakpahaman semata. Maka keputusan yang lahir jelas tanpa rasa kasih sayang. Ibarat menanam benih di atas batu kering; ia mungkin terlihat berdiri tegak untuk sementara, namun tidak akan pernah berakar dan memberikan kesegaran bagi jiwa-jiwa di sekitarnya.
Pondasi Rasa Cukup dan Keadilan
Suasana yang serupa juga terasa dalam cara kita memandang rezeki dan tatanan hidup. Hari ini, kesejahteraan seolah-olah ditakar sepenuhnya melalui rumus-rumus rumit dan hitungan statistik yang dingin, kering, tanpa renungan mendalam. Para penata ikhtiar publik sangat percaya diri bahwa pertumbuhan dapat diproduksi secara mekanis, seakan-akan rezeki dan keberkahan dapat diperas dari mesin-mesin industri semata. Namun, fakta di lapangan kerap kali menghadirkan kenyataan sebaliknya: angka-angka keberhasilan melambung tinggi di kertas laporan, tetapi meja makan di dapur-dapur rakyat kecil justru makin sepi dari sajian.
Kita lupa bahwa tatanan penghidupan sejatinya adalah urusan jiwa dan keberlangsungan hidup manusia yang bernyawa, bukan sekadar permainan deretan angka. Mengelola urusan perut warga membutuhkan kelembutan rasa, empati yang mendalam, serta pemahaman bahwa apa yang ada di bumi ini adalah titipan yang harus dibagi secara adil. Ketika cara pandang yang digunakan melenceng dari prinsip kepengasuhan ini, yang lahir adalah keserakahan yang dibungkus dengan alasan kemajuan. Pembangunan lalu berubah wajah menjadi perebutan ruang, tempat yang kuat memangsa yang lemah, dan yang kenyang melupakan yang lapar.
Para penuntun zaman dahulu mengajarkan bahwa keberkahan sebuah tatanan tidak terletak pada seberapa banyak harta yang berhasil ditumpuk, melainkan pada seberapa meratanya rasa aman dan kecukupan dirasakan oleh yang paling lemah di antara kita. Rezeki yang mengalir dengan kedamaian adalah rezeki yang didalamnya terdapat rasa cukup dan kepedulian. Jika para pemangku kebijakan ekonomi mau sedikit menundukkan pandangan dan mengakui bahwa pengetahuan mereka dalam memprediksi masa depan sangatlah terbatas, mereka tidak akan bertindak gegabah. Mereka akan membangun benteng perlindungan bagi wong cilik, menjaga kelestarian alam tempat bernaung, serta menyusun aturan dengan rasa kasih, bukan dengan kalkulasi keuntungan sepihak.
Menghadapi berbagai ketimpangan dan dinamika zaman yang kian keras ini, kita tentu tidak boleh kehilangan harapan. Tugas kita bukanlah mengutuk kegelapan atau membalas kerasnya sikap dengan amarah yang serupa, melainkan menghadirkan kembali keteladanan yang sejuk, jujur, dan menentramkan.
Sudah saatnya kita menyapa kembali ruang-ruang publik kita dengan kepemimpinan yang mau mendengar, mengasuh, dan mengayomi. Kepemimpinan yang bijak adalah kepemimpinan yang berani mengakui bahwa dirinya tidak menguasai segala jawaban, sehingga ia selalu membuka pintu dialog dengan penuh rasa hormat. Begitu pula dalam tatanan penghidupan, kita merindukan hadirnya kebijakan yang menempatkan manusia sebagai saudara yang harus dijaga martabatnya, bukan sekadar angka dalam bingkai laporan.
Bila setiap dari kita—terutama mereka yang diberi tampuk kekuasaan—bersedia menundukkan jiwa dan menyadari betapa kerdilnya diri ini di hadapan Keagungan, Yang Maha Luas, maka ketegangan politik akan mendingin dan keadilan ekonomi akan menemukan jalannya. Dari tanah yang dipupuk dengan kerendahan hati dan kasih sayang itulah, kedamaian serta kesejahteraan yang sejati akan tumbuh dan menaungi seluruh warga bangsa.
Oleh: Gus Bahar Halim Mahfudz
Editor : Iwan Iwe



















