Oleh: Tri Winiasih
Bagi masyarakat di luar Jawa Timur, istilah “bedug dobol” mungkin terdengar kasar dan tidak biasa. Namun, bagi penutur basa Suroboyoan, khsususnya di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan sekitarnya, ungkapan itu menunjukkan keegaliteran bahasa yang berkesan akrab dan lugas. Istilah bedug dobol digunakan untuk menunjukkan waktu tepat pukul 12.00 siang.
Walaupun dapat diungkapkan dengan kata bedug seperti dalam bahasa Jawa standar (bahasa Jawa di Solo dan Yogya), penutur basa Suroboyoan lebih memilih menggunakan kata bedug dobol ketika ingin menekankan atau melibatkan konteks emosional.
Ayo ndang moleh, bedug dobol sik kluyuran ae!
‘Ayo segera pulang, bedug dobol masih bermain saja!.
Kalimat tersebut akan berbeda nilai rasanya ketika kata yang digunakan hanya ‘bedug’.
Wis bedug, ayo moleh!
Sudah bedug, ayo pulang!.
Kata bedug dapat dimaknai sebagai penanda waktu tengah hari atau saat azan zuhur dikumandangkan, yaitu sekitar pukul 12.00. Kata bedug yang tidak disertai kata dobol menjadikan kata bedug lebih bersifat netral daripada bedug dobol. Hal ini disebabkan nilai rasa makna kata dobol yang kasar, yaitu ‘dubur’.
Dalam bahasa Madura pun, tidak terdapat istilah khusus untuk penanda waktu pukul 12.00 seperti bedug dobol dalam basa Suroboyoan. Penanda waktu sekitar pukul 12.00 siang dalam bahasa Madura dinyatakan dengan kata netral, yaitu pedduk.
Duk-pedduk enga’ reya entara deemma?
Siang-siang begini mau ke mana?
Untuk menyatakan makna penanda waktu pukul 12.00 siang, basa Suroboyoan lebih bervariasi. Menggunakan istilah-istilah unik dalam basa Suroboyoan tersebut merupakan wujud penjagaan terhadap identitas kelokalan. Bedug dobol sudah menjadi garis batas psikologis karena pada saat itu merupakan panas yang paling terik sehingga saatnya untuk beristirahat. Oleh karena itu, apabila ada yang berteriak wis bedug dobol ‘sudah bedug dobol’, sudah waktunya kita berhenti dari aktivitas dan beristirahat secukupnya untuk melepaskan penat.
Editor : Iwan Iwe



















