KEDIRI - Di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, berdiri tegak Masjid Al Mudda’i yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam di wilayah tersebut. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu perjalanan zaman yang masih terjaga keasliannya.
Salah satu keunikan yang masih dipertahankan hingga kini adalah penggunaan jam matahari sebagai penanda waktu salat. Alat tradisional ini terbuat dari bahan tembaga dan kuningan, dilengkapi jarum menyerupai paku serta penanda angka numerik jam. Cara membacanya cukup sederhana, yakni dengan memanfaatkan pergeseran bayangan sinar matahari.
Selain jam matahari, halaman masjid juga dihiasi oleh sekitar sepuluh pohon sawo kecik yang berdiri kokoh. Keberadaan pohon ini menjadi ciri khas masjid tua di Jawa, yang secara filosofis sering melambangkan kebaikan dan kesederhanaan.
Arsitektur Kuno dan Soko Guru Jati
Masjid Al Mudda’i diyakini telah berdiri sejak era 1920-an atau bahkan sebelumnya. Struktur bangunannya masih menunjukkan ciri khas masjid kuno dengan empat tiang utama atau soko guru dari kayu jati yang masih asli dan belum pernah diganti sejak awal pembangunan.
Misnan, pengurus masjid setempat, menyebutkan bahwa konstruksi empat tiang penyangga tersebut memiliki kemiripan dengan beberapa masjid tua lainnya di Kabupaten Kediri, seperti Masjid Baiturrahman Tambakrejo dan Masjid Al Khotib Gurah yang dibangun pada era sebelum 1930-an.
Nama Al Mudda’i sendiri diambil dari nama tokoh agama setempat, Hasan Mudda’i, kiai kharismatik yang mendirikan syiar Islam di wilayah tersebut. Di bagian belakang masjid, hingga kini masih terdapat kompleks makam Hasan Mudda’i beserta keluarga dan keturunannya.
Saksi Perjuangan Kemerdekaan
Meski telah beberapa kali mengalami renovasi, terutama pada bagian lantai dan atap teras depan, ruang utama masjid tetap dipertahankan keasliannya. Misnan memperkirakan jam matahari tersebut mulai digunakan sekitar tahun 1980-an, tepatnya saat renovasi besar-besaran pada tahun 1984.
"Dulu di sekitar tahun 1910, masjid ini juga memiliki pondok pesantren. Jam matahari ini tentunya hanya bisa berfungsi saat ada sinar matahari. Bagian yang masih utuh dan belum pernah direnovasi sama sekali sejak dulu adalah bagian dalam masjid," jelas Misnan.
Selain nilai religius dan historisnya, Masjid Al Mudda’i konon pernah menjadi markas para pejuang dalam melawan penjajah pada tahun 1945. Hingga kini, masjid ini terus menjalankan fungsinya sebagai pusat ibadah sekaligus sarana edukasi agama bagi masyarakat Badas dan sekitarnya. (Yona Salma)
Editor : Iwan Iwe



















