PONOROGO - Nasib nahas dialami Dwi Santoso, bocah asal Desa Japan, Kecamatan Babadan, Ponorogo. Niat hati ingin lihat layang-layang di Sirkuit Motor Cross, Jurang Gandul, Kadipaten, Ponorogo, bocah berusia 7 tahun ini malah nyaris kehilangan matanya akibat terkena benang layang-layang.
Selain nyaris kehilangan mata, tulang hidung anak dari pasangan Sumawan dan Komariah ini juga patah. Akibatnya Dwi terpaksa harus menjalani perawatan selama hampir 1 minggu. Bahkan Dwi pun harus menjalani perawatan lanjutan untuk memeriksakan matanya karena penglihatannya mengalami penurunan.
Sumawan, ayah korban, menerangkan insiden yang menimpa putra keduanya tersebut berawal saat ia bersama kedua anaknya melihat festival layang-layang di Sirkuit Motor Cross, Jurang Gandul, Kadipaten. Awalnya, berlangsung lancar dan menyenangkan.
Namun, tiba-tiba ada satu layangan yang sulit dikendalikan oleh pemiliknya karena kondisi angin yang kencang. Karena kencangnya angin membuat, gulungan senar terlepas dari pemiliknya dan langsung menghantam mata kiri Dwi hingga berlumuran darah.
“Waktu itu, saya melihat di pinggir, sementara anak saya melihat bersama teman-temannya. Saat itu, ada satu layangan yang lepas dan benang mengenai mata anak saya. Saat itu juga langsung saya bawa ke rumah sakit Darmayu,” kata Sumawan.
Namun, karena RSU Darmayu tak bisa menangani, Santoso dirujuk ke RSUD Harjono Ponorogo. Saat dirontgen, diketahui tulang hidung patah dan penglihatan berkurang. Atas kondisi ini, pihak panitia festival hanya memberi santunan uang sebesar Rp 1 juta.
“Panitia sempat ikut ke rumah sakit dan memberi uang Rp 1 juta. Tapi setelah itu tak bisa dihubungi. Dan uang Rp 1 juta sudah habis untuk biaya perobatan di rumah sakit. Karena anak saya saat ini sudah dirujuk ke RSU Dr Sarjito Yogyakarta,” katanya.
Karena pihak panitia sudah lepas tangan, saat ini Sumawan terpaksa mencari pinjaman uang untuk biaya operasi anaknya di RSU Dr Sarjito Yogyakarta. Sumawan berharap pihak panitia Festival bertanggung jawab penuh biaya pengobatan anaknya hingga sembuh. (Ega Patria)
Editor : M Fakhrurrozi