SURABAYA - Di tengah derasnya arus modernitas dan digitalisasi, kesehatan mental justru kerap tertinggal dan menjadi isu pinggiran. Padahal manusia tidak bisa dipahami hanya sebagai makhluk fisik semata, melainkan sebagai kesatuan utuh antara jasmani (fisik/tubuh), mental (jiwa), dan ruhani (spiritual). Ketiganya harus berada dalam keseimbangan agar seseorang dapat dikatakan benar-benar sehat, baik secara lahir maupun batin.
Namun realitas hari ini menunjukkan ketimpangan yang semakin nyata. Terutama pada kalangan muda yang biasanya dilabelkan pada Generasi Z, yang tumbuh dalam era digital, menghadapi tekanan yang tidak sederhana. Stres, kecemasan, depresi, hingga kasus bunuh diri semakin sering muncul ke permukaan. Ini bukan sekadar fenomena individual, melainkan gejala sosial yang mengindikasikan adanya krisis keseimbangan antara fisik dan mental.
Salah satu faktor utama yang memicu kondisi ini adalah keberadaan “dua dunia” yang dijalani secara bersamaan: dunia nyata dan dunia maya. Idealnya, keduanya bisa saling melengkapi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kesenjangan antara keduanya semakin melebar. Dunia maya sering kali menawarkan ilusi kesempurnaan: kehidupan yang tampak bahagia, sukses, dan tanpa masalah. Sementara dunia nyata tetap menghadirkan tantangan, keterbatasan, dan kompleksitas yang tidak bisa dihindari.
Ketika seseorang terlalu larut dalam dunia maya, ia cenderung menghindari realitas. Media sosial menjadi pelarian, bukan sekadar sarana komunikasi. Interaksi digital menggantikan hubungan sosial yang nyata. Komunitas virtual dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan emosional, padahal kedalaman relasi di dunia nyata tidak tergantikan. Akibatnya, muncul kecenderungan asosial, bahwa individu merasa terhubung, tetapi sebenarnya terisolasi.
Lebih jauh lagi, persoalan ini diperparah oleh minimnya ruang untuk berbagi. Banyak individu, terutama anak muda, tidak memiliki tempat yang aman untuk “curhat” atau mengurai persoalan hidupnya. Ketika masalah menumpuk tanpa solusi, tekanan mental semakin berat. Dalam kondisi seperti ini, seseorang membutuhkan bukan hanya pendengar, tetapi juga sistem nilai yang dapat menjadi panduan dalam memahami, mengurai dan menyelesaikan masalah.
Di sinilah letak persoalan mendasar: krisis nilai. Banyak generasi muda yang tumbuh tanpa fondasi norma, etika, dan keyakinan (agama) yang kuat. Padahal, nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai kompas dalam menghadapi realitas kehidupan, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Tanpa kompas ini, seseorang mudah tersesat dalam tekanan sosial, ekspektasi digital, dan konflik batin yang tidak terselesaikan.
Solusi atas persoalan ini tidak bisa bersifat parsial. Diperlukan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Pertama, perlu ada upaya untuk mendudukkan kembali posisi dunia nyata dan dunia maya secara proporsional. Dunia nyata harus tetap menjadi ruang utama kehidupan. Interaksi sosial, keterlibatan dalam masyarakat, dan kepatuhan terhadap norma serta hukum adalah fondasi yang tidak bisa digantikan oleh dunia digital. Dunia maya seharusnya hanya menjadi pelengkap, bukan pengganti.
Kedua, literasi digital harus ditingkatkan. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memahami bahwa tidak semua yang ada di dunia maya dapat atau layak direalisasikan di dunia nyata. Dibutuhkan kedewasaan dalam menyaring informasi, mengelola ekspektasi, serta menggunakan teknologi secara bijak.
Ketiga, peran keluarga dan masyarakat harus diperkuat. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga harus hadir sebagai pendamping emosional dan pembimbing nilai. Komunitas sosial juga perlu dihidupkan kembali sebagai ruang interaksi yang sehat, tempat individu merasa diterima dan didukung.
Keempat, penguatan sistem nilai dan keyakinan menjadi kunci. Nilai-nilai moral dan agama bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi yang memberikan makna dan arah dalam hidup. Dengan pegangan ini, individu memiliki daya tahan mental yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan hidup.
Akhirnya, kesehatan mental tidak boleh lagi dianggap sebagai isu sekunder atau “fenomena gunung es” yang diabaikan. Jika tidak ditangani sejak dini, gejala-gejala yang ada dapat berkembang menjadi krisis besar yang sulit dikendalikan. Kita tidak bisa menunggu hingga gelombang masalah ini muncul bersamaan, membesar dan menelan lebih banyak korban.
Kesadaran kolektif harus segera dibangun: bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tanpa keseimbangan itu, manusia kehilangan harmoni dalam dirinya, dan pada akhirnya akan kehilangan arah dalam hidupnya.
Penulis:
Radian Jadid
*Kepala Sekolah Rakyat Kejawan
*Ketua Task Force Kemanusiaan Kantin ITS (TFKK ITS)
*Ketua Harian ITS93
Editor : M Fakhrurrozi



















