Menu
Pencarian


Jobong Kuno Diduga Peninggalan Kerajaan Medang Abad ke-10 Ditemukan di Mojowarno Jombang

Saiful Mualimin - Rabu, 4 November 2026 15:56
Jobong Kuno Diduga Peninggalan Kerajaan Medang Abad ke-10 Ditemukan di Mojowarno Jombang
Petugas BPK Jawa Timur bersama warga mengevakuasi artefak kuno yang ditemukan saat penggalian tanah di Dusun Garut, Desa Menganto, Mojowarno, Jombang. (Foto: Saiful Mualimin)

JOMBANG - Struktur jobong kuno yang diduga berasal dari masa Kerajaan Medang sekitar abad ke-10 Masehi ditemukan di Dusun Garut, Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Temuan tersebut bermula ketika seorang warga menggali tanah untuk keperluan pembangunan rumah.

Artefak yang diperkirakan berusia sekitar 1.000 tahun itu kemudian diteliti oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur. Pamong Budaya Ahli Pertama BPK Jawa Timur, Indra Eka Widya Jaya, menjelaskan, jobong merupakan struktur berbentuk lingkaran yang berfungsi melapisi atau melindungi dinding sumur. Namun, sejumlah peneliti juga menduga struktur serupa memiliki fungsi seperti septic tank pada masa lampau.

"Artefak ini disebut jobong atau perigi. Di Jawa Timur umumnya dikenal dengan sebutan jobong. Bentuknya berupa dinding yang kemungkinan merupakan bagian dari sumur. Namun, belakangan muncul pendapat dari sejumlah peneliti dan ahli bahwa jobong memiliki fungsi menyerupai septic tank. Meski demikian, hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut," jelas Indra, Rabu (4/11/2026).

Struktur jobong tersebut ditemukan sekitar satu meter di bawah permukaan tanah. Hasil identifikasi awal menunjukkan terdapat empat lapisan jobong. Di sekitar struktur tersebut, petugas juga menemukan pecahan tembikar halus dan bata berukuran besar.

Indra mengatakan, ukuran bata yang ditemukan di sekitar jobong memiliki kemiripan dengan bata penyusun Candi Pandegong di Desa Menganto. Kemiripan terlihat dari dimensi, ketebalan, panjang, hingga karakteristik materialnya.

"Di dalam jobong ini ditemukan tembikar halus dan bata berukuran besar. Kami mencoba mengukur dan membandingkannya dengan bata penyusun Candi Pandegong. Dimensinya nyaris sama. Kemungkinan besar berasal dari masa yang sama karena ketebalan, panjang, dan karakteristik material batanya memiliki kemiripan," ujar Indra.

Meski demikian, perkiraan usia dan keterkaitan kedua peninggalan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Proses penyelamatan artefak dilakukan BPK Jawa Timur pada Senin (2/11/2026). Dari empat lapisan yang ditemukan, tiga lapisan berhasil dievakuasi. Sementara satu lapisan paling bawah terpaksa ditinggalkan karena sulit diangkat.

"Awalnya ditemukan sekitar empat lapis jobong. Struktur ini memang tersusun bertumpuk untuk melindungi dindingnya. Tiga lapisan berhasil kami evakuasi, sedangkan lapisan terakhir terpaksa ditinggalkan karena sangat sulit diangkat. Nantinya, bagian tersebut akan diratakan karena lokasi ini akan digunakan untuk pembangunan rumah warga," kata Indra.

Tiga lapisan jobong yang berhasil diselamatkan kemudian dipindahkan ke kawasan Candi Pandegong, sekitar satu kilometer dari lokasi penemuan. Sementara bagian yang masih tertanam akan ditimbun kembali dan diberi tanda agar keberadaannya tetap diketahui.

BPK Jawa Timur berencana melakukan pembersihan dan konservasi terhadap artefak yang telah dievakuasi. Kajian lanjutan juga diperlukan untuk mengungkap fungsi asli, usia, serta kemungkinan keterkaitan struktur tersebut dengan aktivitas permukiman kuno di kawasan Mojowarno. (*)

Editor : A. Ramadhan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.