PROBOLINGGO - Dampak putusnya jembatan akibat banjir bandang di Dusun Gilih, Desa Seboro, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, membuat 14 siswa SDN Karangren 2 terpaksa tidak bisa masuk sekolah.
Kondisi ini mendorong para guru dan komite sekolah untuk mendatangi rumah-rumah siswa guna memastikan kondisi mereka pasca bencana. Untuk menuju ke rumah siswa, para guru harus menggunakan perahu karet.
Kepala SDN Karangren 2, Syaiful Ansyori, mengatakan pihaknya berencana mengevakuasi 14 siswa tersebut ke dusun sebelah yang lebih dekat dengan sekolah agar mereka tetap bisa mengikuti pelajaran.
“Rencananya kami akan mengevakuasi mereka ke dusun sebelah, itupun kalau mereka mau dan orang tua merestui,” ujar Syaiful.
Baca Juga : Dua Pemancing Terseret Banjir Bandang di Magetan, Satu Korban Masih Hilang
Namun, tidak semua siswa setuju dengan rencana evakuasi tersebut. Sebagian anak menolak karena merasa tidak nyaman jika harus tinggal di rumah orang lain.
Sebagai alternatif, pihak sekolah menyiapkan opsi pembelajaran daring (online) seperti yang diterapkan saat pandemi COVID-19.
“Kami ada solusi yang kedua, yakni kembali menggunakan sistem daring seperti masa COVID-19, agar anak-anak tetap menerima hak belajar, apalagi untuk siswa kelas 6 yang akan menghadapi ujian dan persiapan kegiatan Ramadhan,” jelas Syaiful.
Baca Juga : Jembatan Putus, 14 Pelajar di Probolinggo Tak Bisa Sekolah
Sementara itu, Minara, siswi kelas 3 SDN Karangren 2, mengaku rindu suasana sekolah setelah beberapa hari terpaksa libur akibat terputusnya akses jalan.
“Saya ingin sekolah lagi, agar cepat pintar dan tidak tertinggal pelajaran,” ucap Minara dengan mata berbinar.
Sebelumnya, banjir bandang yang melanda wilayah ini menyebabkan jembatan penghubung antar dusun putus, membuat sekitar 90 kepala keluarga di Dusun Gilih terisolasi. (Najla Lailatun)
Baca Juga : Jembatan Putus di Probolinggo, Ibu Hamil 9 Bulan Dievakuasi dengan Perahu Karet
Editor : M Fakhrurrozi