Sebagai bagian dari Generasi Z, saya sering merasa skeptis dengan janji-janji manis yang dilontarkan calon pemimpin saat kampanye. Saya dan teman-teman seangkatan sudah terlalu sering mendengar janji besar yang ternyata tidak berdampak nyata. Di era digital ini, informasi bisa kami dapatkan dengan cepat, sehingga kami lebih kritis terhadap siapa yang layak memimpin. Kami nggak butuh pemimpin yang pandai membuat janji, tapi yang berani transparan dan punya visi jelas untuk masa depan.
"Kami Nggak Butuh Janji Manis"
Setiap kali mendengar pidato kampanye, saya sering bertanya-tanya, seberapa realistis janji-janji ini? Bagi saya, janji yang terdengar terlalu sempurna biasanya sulit diwujudkan. Apalagi kalau kandidat pemimpin hanya fokus pada pencitraan, tanpa memperlihatkan strategi konkrit untuk merealisasikan janji tersebut. Saya lebih menghargai pemimpin yang berani berkata jujur tentang batas kemampuan mereka, dan yang berani transparan soal kebijakan.
Generasi saya paham bahwa sebuah pemerintahan tidak selalu berjalan mulus. Kami tidak mencari pemimpin yang menjanjikan segalanya akan mudah, tetapi mereka yang berani terbuka tentang proses dan kesulitan yang mungkin dihadapi. Bagi saya, transparansi adalah bentuk tanggung jawab kepada rakyat, dan hal ini jauh lebih berharga daripada janji bombastis yang hanya menyenangkan di telinga.
Baca Juga : Sebuah Logika Tanpa Dasar Jiwa: Mengapa Gen Z Perlu Menemukan Filosofi dalam Hidup
"Punya TikTok Boleh, Asal Punya Visi Jelas"
Di masa sekarang, hampir semua calon pemimpin memiliki akun media sosial. Mereka aktif di platform seperti TikTok, berusaha meraih simpati dan perhatian pemilih muda. Sebagai bagian dari generasi yang lahir dan besar dengan media sosial, saya mengerti kenapa ini jadi strategi mereka. Namun, meskipun kehadiran di media sosial bisa membuat mereka tampak dekat, bagi saya itu tidak cukup.
Punya TikTok oke, tapi lebih penting lagi adalah bagaimana mereka menjawab tantangan masa depan. Saya ingin tahu, apa visi mereka terkait pendidikan, pekerjaan, atau bahkan isu lingkungan yang semakin mendesak? Sosok pemimpin yang saya cari adalah mereka yang nggak cuma pandai bikin konten, tapi juga punya pemahaman yang mendalam tentang isu-isu penting.
Baca Juga : Gen Z dan Pilkada: Kami Nggak Butuh Pencitraanmu, Pak, Bu!
"Transparansi di Atas Segalanya"
Bagi saya, transparansi adalah kunci. Pemimpin yang baik adalah mereka yang berani terbuka, baik tentang kebijakan, anggaran, maupun langkah-langkah yang mereka ambil untuk menangani masalah. Saya ingin tahu apa yang sedang terjadi di balik layar, dan saya ingin pemimpin yang berani berbagi informasi tersebut dengan jujur.
Saya tidak tertarik pada pencitraan yang hanya membuat pemimpin terlihat "baik" di depan publik. Apa yang saya harapkan adalah pemimpin yang bersedia mendengarkan kami dan berani mengakui jika ada kekeliruan. Buat saya, ini menunjukkan integritas, dan itu lebih penting daripada sekadar popularitas.
Baca Juga : Sri Untari Ajak Orang Tua Dampingi Pendidikan Anak Generasi Z
“Pemimpin Masa Depan, Lebih dari Sekadar Pencitraan”
Saat Pilkada semakin dekat, saya harap para calon pemimpin benar-benar mendengarkan suara kami, generasi muda. Kami ingin pemimpin yang punya solusi nyata, yang bersedia bekerja untuk masa depan yang lebih baik. Saya yakin teman-teman saya juga merasakan hal yang sama, kami butuh lebih dari sekadar janji. Kami butuh pemimpin yang punya visi jelas, berani bertindak, dan yang lebih penting, siap transparan di setiap langkah.
Jadi, kepada para calon pemimpin di Pilkada nanti, saya ingin bertanya: apakah Anda sudah siap untuk memimpin dengan transparansi dan integritas?
Baca Juga : Sri Untari Ajak Orang Tua Tingkatkan Pola Asuh Anak di Era Digital
*) Akbar Giri, mahasiswa Unair yang hobi ngamatin manusia dan budaya, kayak nonton film tanpa popcorn. Nggak bisa nyelametin dunia, tapi bisa ngerti kenapa kita rumit!
**) Penulis adalah salah satu peserta magang JTV Digital periode Agustus-Desember 2024.
Baca Juga : Pemilih Pemula di Jatim Masih Kesulitan Cari Informasi Tentang Calon Legislatif
Editor : Iwan Iwe