SURABAYA - Memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini mulai memicu kekhawatiran serius di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Dalam program "Sorot" yang tayang di JTV pada Minggu (8/3/2026), dibahas bahwa konflik ini tidak hanya berisiko menimbulkan ketidakstabilan global, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor ekonomi, rantai pasok perdagangan, hingga layanan perjalanan ibadah umrah.
Ancaman terhadap Sektor Pangan dan Ekonomi
Sebagai provinsi dengan kontribusi ekonomi signifikan, Jawa Timur dinilai rentan terhadap gejolak global. Ketua Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyoroti dampak domino konflik terhadap biaya produksi industri, terutama bagi produsen tahu dan tempe.
“Indonesia mengimpor hampir 99 persen kedelai dari Amerika. Jika konflik memicu kenaikan harga minyak dunia, maka ongkos distribusi akan membengkak. Dampaknya, harga kedelai naik dan otomatis harga tempe serta tahu di pasar domestik ikut melonjak,” ujar Adik.
Pakar hukum internasional dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Satria Unggul Wicaksana, turut mengingatkan pemerintah daerah agar menyiapkan skenario terburuk. “Pemerintah provinsi harus waspada terhadap kemungkinan kelangkaan energi atau perlambatan ekonomi akibat terganggunya rantai pasok perdagangan internasional,” jelasnya.
Keselamatan Warga dan Jemaah Umrah
Selain ekonomi, pemerintah pusat dan daerah tengah fokus memantau keselamatan warga negara Indonesia (WNI) di kawasan Timur Tengah. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyerahkan sepenuhnya penanganan situasi kepada pemerintah pusat. Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau masyarakat untuk sementara menunda perjalanan ke kawasan konflik.
Terkait mobilitas jemaah, Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur mencatat saat ini terdapat sekitar 9.432 jemaah umrah asal Jawa Timur yang berada di Arab Saudi. Mohammad As’adul Anam dari Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah mengungkapkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna mengantisipasi perubahan jadwal penerbangan akibat eskalasi situasi.
"Kondisi di sini masih relatif aman, hanya saja memang terjadi penundaan penerbangan, terutama bagi jemaah yang transit," ujar Muhammad Ayub Qasim, salah satu jemaah umrah asal Lamongan, saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Langkah Antisipasi Pemerintah
Di sisi lain, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, memastikan bahwa mahasiswa Indonesia di Iran saat ini berada dalam pengawasan dan fasilitasi Kementerian Luar Negeri. Pemerintah terus memantau perkembangan situasi terkini dan meminta seluruh mahasiswa untuk tetap tenang.
Dengan situasi yang masih dinamis, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah di Jawa Timur sangat krusial. Langkah antisipasi baik di sektor ekonomi maupun perlindungan warga negara menjadi prioritas utama guna meminimalisir dampak negatif dari konflik yang terjadi ribuan kilometer dari tanah air tersebut. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















