Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan global, termasuk dampaknya terhadap perekonomian Jawa Timur. Dibahas dalam program “Jatim Joss – Obrolan Spesial Seputar Jawa Timur” yang tayang di JTV pada Senin (09/03/26), ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur logistik internasional dan mendorong kenaikan harga energi yang dapat menekan aktivitas ekspor maupun industri di daerah.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jawa Timur, E. Lucky Kristian, menjelaskan bahwa untuk beberapa komoditas impor seperti kedelai dan gandum, dampak langsung dari konflik belum terlalu signifikan karena sumber utama impor berasal dari Amerika Serikat dan Australia.
“Impor kedelai dan gandum kita sebagian besar dari Amerika dan Australia, sehingga jalurnya tidak terlalu terdampak langsung konflik di Timur Tengah. Namun yang harus diwaspadai adalah kenaikan harga BBM yang dapat meningkatkan biaya logistik,” ujar Lucky.
Menurutnya, kenaikan harga energi berpotensi menjadi penyumbang inflasi karena biaya distribusi barang akan ikut meningkat. Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah antisipasi, salah satunya melalui program pasar murah. “Pasar murah ini kita harapkan bisa membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau sehingga daya beli tetap terjaga,” kata Lucky.
Baca Juga : Perang Iran–Israel, UMSURA Gaungkan Pesan Perdamaian Dunia Lewat Penancapan Bendera Global
Dari sisi ekspor, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Kadin Jawa Timur, Thomas Stefanus Kaihatu, mengatakan konflik geopolitik dapat mempengaruhi jalur pelayaran internasional. Beberapa kapal bahkan harus memutar rute yang lebih jauh sehingga meningkatkan biaya logistik secara signifikan. “Dengan kondisi ini ongkos logistik bisa naik sekitar 30 sampai 35 persen, bahkan waktu perjalanan juga bertambah sekitar 10 hingga 14 hari,” jelasnya.
Thomas menambahkan bahwa ekspor Jawa Timur ke Timur Tengah mencapai sekitar 10 persen dari total ekspor daerah yang nilainya mencapai sekitar 25,34 miliar dolar AS. Komoditas utama yang dikirim ke kawasan tersebut antara lain produk turunan CPO, kakao, hingga tembakau.
Namun kondisi konflik membuat sejumlah pelabuhan di kawasan tersebut tidak dapat beroperasi secara normal, sehingga pengiriman barang menjadi terhambat.
Meski demikian, Kadin Jawa Timur mendorong para pelaku usaha untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor guna mengurangi ketergantungan pada wilayah yang terdampak konflik. “Kita sejak lama sudah mendorong diversifikasi pasar, misalnya ke Asia Timur, Asia Selatan, hingga Afrika. Jadi tidak hanya bergantung pada pasar tradisional seperti Eropa atau Timur Tengah,” ungkap Thomas.
Sementara itu, akademisi sekaligus Kaprodi Ekonomi Pembangunan Universitas Terbuka Surabaya, Arga Christian Sitohang, menilai dampak paling cepat dari konflik ini akan terasa pada sektor logistik dan biaya produksi industri.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel dapat menjadi tekanan serius bagi daerah industri seperti Jawa Timur. “Minyak di atas 100 dolar per barel merupakan shock negatif bagi daerah industri karena akan meningkatkan biaya energi, distribusi, dan produksi manufaktur,” jelas Arga.
Arga memperkirakan jika harga energi global bertahan tinggi dalam waktu lama, maka pertumbuhan ekonomi Jawa Timur berpotensi terkoreksi sekitar 0,2 hingga 0,5 persen dari proyeksi awal.
Meski demikian, ia menilai Jawa Timur masih memiliki ketahanan ekonomi yang cukup baik karena ditopang konsumsi domestik yang kuat serta koordinasi kebijakan fiskal daerah. “Jatim memiliki kapasitas stabilitas jangka pendek melalui koordinasi fiskal dan pengendalian inflasi, tetapi tetap tidak kebal terhadap guncangan ekonomi global,” ujarnya.
Untuk mengurangi dampak jangka panjang, para narasumber sepakat bahwa langkah strategis seperti diversifikasi pasar ekspor, penguatan bahan baku lokal, serta peningkatan riset dan substitusi impor perlu terus dilakukan.
Dengan strategi adaptif tersebut, Jawa Timur diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonominya sekaligus memanfaatkan peluang baru di tengah ketidakpastian geopolitik global. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















