Ludruk tidak hanya hadir sebagai seni pertunjukan yang menghibur, tetapi juga dapat menyampaikan cerita tentang asal-usul sebuah tempat. Salah satunya nampak dalam ludruk dengan lakon Geger Surabaya yang mengisahkan asal-usul Kampung Banyu Urip di Surabaya.
Ludruk dengan lakon Geger Surabaya dipentaskan oleh Ludruk Studio Kalisari Surabaya pada tahun 2018 dengan sutradara Asmorohadi NS. Ludruk ini mengangkat versi lain dari Legenda Joko Dolog, sebuah cerita rakyat yang mengisahkan cinta segitiga antara Pangeran Situbanda, Dewi Purbawati, dan Pangeran Kediri. Keduanya sama-sama ingin mempersunting Dewi Purbawati. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi suaminya, Dewi Purbawati memberikan syarat kepada kedua pangeran tersebut untuk membuka hutan Surabaya. Dalam proses pembukaan hutan tersebut, dikisahkan asal-usul sejumlah kampung di Surabaya, diantaranya Kampung Banyu Urip.
Dalam perjalanan membuka hutan, Pangeran Situbanda merasa kelelahan. Ia kemudian menemukan sumber air yang sangat jernih, sehingga ia meminumnya. Setelah meminum air, tubuhnya terasa segar dan tenaganya kembali pulih. Pengalaman itu menimbulkan inspirasi bagi Pangeran Situbanda untuk memberi nama tempat tersebut sebagai Banyu Urip, yang mencerminkan air yang memberikan kesegaran dan memulihkan tenaga.
Secara etimologis, ‘Banyu Urip’ berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu banyu yang berarti ‘air’ dan urip yang berarti ‘hidup’. Dengan demikian, ‘Banyu Urip’ bermakna tempat yang memberikan kehidupan melalui airnya.
Akhudiat (2008: 59) dalam Masuk Kampung Keluar Kampung Surabaya Kilas Balik mengungkapkan, “banyak kampung di Surabaya memang berasal dari pengurukan/pengembangan/reklamasi/babat alas atas lahan-lahan berair atau dilewati aliran air, maka toponim kampung-kampungnya berkaitan dengan: kedung, tambak, sawah, medok (tempat tinggal di persawahan), bengkok (sawah atau tanah yang diberikan kepada pegawai desa sebagai ganti gaji), banyu (air, sungai), kali (sungai), rowo (rawa, payau), gembong (genangan air), sumur, tambangan/nambangan (tempat menambang, menyeberang), sabrangan, bandar, segaran (segoro, laut), pantai, wedi (pasir laut atau sungai), tangkis (tanggul/pematang penahan sungai), pulo (pulau di tengah laut, atau tengah sungai/delta; pematang/tanggul/tangkis), meer (Belanda: danau, telaga, tasik), moro=muworo=muara”.
Dengan demikian, ludruk tidak hanya hadir sebagai media hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan dan mengenalkan lokalitas suatu daerah. Melalui lakon, tokoh, bahasa, serta cerita yang diangkat, ludruk mampu merekam berbagai jejak sejarah, asal-usul tempat, tradisi, dan nilai-nilai budaya masyarakat. Kisah Geger Surabaya memperlihatkan bagaimana pertunjukan ludruk dapat menjadi media untuk mengenalkan asal-usul sebuah wilayah di Surabaya.
Ditulis oleh Naila Nilofar-Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur
Editor : Iwan Iwe


















