KOTA BATU - Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu, berubah menjadi lautan warna-warni bunga dalam gelaran Batu Art Flower Carnival (BAFC) 2026, Sabtu (30/10/2026). Sebanyak 38 kontingen memeriahkan parade kendaraan hias, kostum karnaval, hingga pertunjukan seni budaya yang menyedot perhatian warga dan wisatawan.
Mengusung tema “Harmoni Sinergi Semesta”, perhelatan ini tidak sekadar menjadi panggung kreativitas masyarakat. BAFC juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan potensi pariwisata, pertanian, investasi, dan kelestarian lingkungan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu.
Sejak pagi, masyarakat memadati sisi Jalan Panglima Sudirman untuk menyaksikan iring-iringan kendaraan hias. Beragam kreasi ditampilkan, mulai dari kendaraan yang disulap menyerupai taman berjalan hingga dekorasi bunga yang dipadukan dengan ornamen budaya dan cerita rakyat khas Kota Batu.
Tak hanya menampilkan keindahan bunga, setiap kontingen juga menghadirkan atraksi seni, musik, dan gerak. Kreativitas petani bunga, perajin, seniman, komunitas, hingga pelaku usaha berpadu dalam parade yang mempertegas identitas Kota Batu sebagai City of Flower.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, menjelaskan, BAFC 2026 melibatkan sekitar 38 kontingen dari berbagai unsur. Peserta berasal dari kelompok street percussion, jajaran Pemerintah Kota Batu, mitra perbankan, serta perwakilan tiga kecamatan, yakni Junrejo, Batu, dan Bumiaji bersama desa dan kelurahan di wilayah masing-masing.
“Partisipasi juga datang dari sektor usaha dan pariwisata, di antaranya Baloga, Mikutopia, Perumdam Among Tirto, PT Selecta, Santera de Laponte, Kaliwatu Group, serta Proflorist Batu,” tutur Onny.

Parade dimulai dari depan Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Batu dan berakhir di Perempatan Galeri Raos. Setiap kontingen diwajibkan melibatkan minimal 20 hingga maksimal 50 orang, termasuk penampil dan kru lapangan. Sementara jumlah kendaraan hias dibatasi paling banyak dua unit untuk setiap kontingen.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, BAFC tahun ini tidak dikemas sebagai ajang perlombaan. Penyelenggara lebih mengutamakan partisipasi dan kolaborasi, sekaligus memberikan ruang bagi peserta untuk mengekspresikan kreativitas masing-masing.
“Konsep partisipasi peserta tahun ini bersifat tidak dilombakan. Fokusnya pada kolaborasi, ekspresi seni, dan pawai bersama,” tambahnya.
Unsur budaya lokal juga menjadi kekuatan dalam perhelatan kali ini. Sejumlah legenda dan cerita rakyat khas Kota Batu, seperti Putri Gunung Banyak dan Sungai Brantas, diangkat melalui pertunjukan. Selain itu, warisan budaya takbenda dihadirkan melalui kirab budaya yang merepresentasikan tradisi gotong royong masyarakat.
Onny menjelaskan, tema “Harmoni Sinergi Semesta” dipilih untuk menempatkan bunga bukan sekadar sebagai dekorasi, melainkan juga representasi seni, identitas daerah, kekuatan budaya, sekaligus simbol kehidupan yang menghubungkan manusia dengan alam.
Konsep tersebut diterjemahkan melalui tiga pilar utama, yakni Folklore Legend, Blooming Beyond Imagination (Floral Fantasy), dan Intangible Cultural Heritage. Ketiganya memadukan legenda lokal, imajinasi seni bunga, serta kekayaan warisan budaya dalam satu rangkaian parade.
“Melalui perpaduan bunga, seni, budaya, alam, musik, gerak, teknologi, dan kreativitas, tema ini dirancang untuk menghadirkan sebuah spektakel yang tumbuh dari kekayaan lokal Kota Batu,” ungkap Onny.
Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman menyebut BAFC 2026 bukan sekadar agenda hiburan, tetapi juga perayaan kreativitas sekaligus bentuk apresiasi terhadap potensi pertanian, khususnya sektor florikultura di Kota Batu.
“BAFC adalah sebuah perayaan kreativitas bagi masyarakat Kota Batu. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, seluruh kontingen, para petani yang berkontribusi, serta para seniman dan budayawan yang merangkai hasil pertanian menjadi sebuah karya kreatif,” tuturnya.

Nurochman menegaskan, tema “Harmoni Sinergi Semesta” juga menjadi pengingat bahwa pengembangan infrastruktur, pariwisata, investasi, hingga pertanian harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, besarnya potensi yang dimiliki Kota Batu tidak boleh hanya dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi tanpa memperhatikan keberlanjutan alam. Seluruh potensi daerah perlu dikelola secara bijak agar tetap terjaga bagi generasi mendatang.
“Ini perlu satu komitmen bersama, bagaimana kita mengharmonisasi potensi-potensi itu, tidak kemudian hanya mengeksploitasi. Harus ada komitmen bagaimana kita melestarikan lingkungan. Harmonisasi atas seluruh potensi yang ada harus dilakukan dengan bijak, dengan memuliakan alam dan lingkungan kita,” ujar Nurochman.
Dari sisi ekonomi, Nurochman melihat BAFC sebagai ruang kolaborasi yang mampu memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian hortikultura. Bunga, sayuran, dan berbagai produk pertanian lainnya tidak hanya ditampilkan sebagai dekorasi, tetapi juga diolah menjadi karya kreatif melalui keterlibatan seniman dan budayawan.
Kolaborasi tersebut, menurutnya, berpotensi meningkatkan penyerapan produk pertanian sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Produk pertanian hortikultura ini menjadi satu kekuatan. Ada tim yang meng-create, ada orang-orang kreatif, seniman, dan budayawan yang mengolaborasikan di situ. Hasil pertanian hortikultura bisa laku lebih dari hari-hari biasanya. Itu pasti ada dampak ekonomi bagi para petani kita. UMKM juga akan tumbuh dengan event seperti ini,” jelasnya.

Selain memberikan dampak bagi sektor pertanian dan UMKM, BAFC juga diharapkan mampu memperkuat daya tarik wisata Kota Batu. Nurochman berharap agenda tahunan ini dapat menarik wisatawan untuk datang dan sekaligus mengunjungi berbagai destinasi wisata yang ada.
Terlebih, penyelenggaraan BAFC tahun ini berlangsung pada akhir pekan sehingga bisa menjadi bagian dari rangkaian kunjungan wisata masyarakat ke Kota Batu.
Melalui BAFC 2026, Pemerintah Kota Batu berharap potensi bunga, seni, budaya, dan kreativitas masyarakat semakin dikenal luas. Di sisi lain, semangat kolaborasi dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Kota Batu sebagai daerah tujuan wisata. (Rafli)
Editor : JTV Malang























