Abdul Majid, atau lebih dikenal sebagai Majid Uno, adalah sosok inspiratif yang telah melalui perjalanan hidup penuh tantangan sebagai penyandang tunanetra. Kehilangan penglihatannya secara bertahap, pria asal Sidoarjo ini justru menemukan "terang" dalam gelapnya dunia. Melalui pengalaman belajar di luar negeri dan aktif dalam memperjuangkan hak-hak disabilitas, Majid kini menjadi suara lantang untuk inklusivitas di berbagai sektor, termasuk politik dan pendidikan.
---
Siang itu, Majid Uno tiba di kompleks Graha Pena Surabaya ditemani sang istri, Mira Aulia. Duduk di kafe yang terletak di halaman depan, ia mengenakan topi, kacamata hitam, serta membawa tongkat yang selalu menemaninya. Dengan senyuman hangat dan semangat yang tak surut, Majid menyambut tim Portal JTV dan segera mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya—terutama momen-momen berat ketika ia perlahan kehilangan penglihatan.
Majid Uno, kehilangan penglihatan secara bertahap. Pada tahun 2004, mata kirinya buta akibat benturan saat bermain bola.
Baca Juga : Terang dalam Gelap: Dunia dalam Pandangan Majid Uno, Si Penyandang Tunanetra
Kondisi ini diperparah karena dirinya sudah memiliki mata yang minusnya mencapai belasan. Selama 13 tahun berjalan, Majid bertahan dengan penglihatan dari mata kanannya.
Namun, pada 2017, mata kanannya mulai melemah hingga didiagnosa buta total. Majid mengaku sudah mempersiapkan diri untuk menerima hal itu sejak lama.
Pria yang baru saja menikah Februari lalu ini mengaku dalam pandangannya, semuanya gelap tidak bisa melihat sama sekali. Namun, ini justru menjadi kebalikan dari makna tersiratnya.
Baca Juga : Kakek di Sidoarjo Tega Cabuli Anak Perempuan Tuna Netra
"Saya sempat mengenal birunya langit, meronanya senja, tapi di sisi lain, kegelapan ini membawa saya menuju jalan terang yang tidak pernah saya jamah sebelumnya. Ada terang dalam gelap," ucap pria asal Sidoarjo itu.
Ia menjelaskan, dalam kebutaan banyak hal baik datang padanya. Salah satu momen paling berharga adalah kesempatan belajar di Queensland University of Technology di Australia. Baginya kesempatan ini membuat hidupnya semakin bermakna.
Selain aktif di pendidikan, Majid juga aktif menulis di media. Ia kerap mengangkat isu-isu terkait disabilitas, termasuk kebijakan pemerintah, politik, pendidikan, dan fasilitas publik.
Menurutnya, fasilitas publik masih kurang ramah bagi penyandang disabilitas. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak melibatkan disabilitas dalam pembuatan kebijakan hingga realisasinya.
Untuk itu, mahasiswa Program Magister Kebijakan Publik Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya ini menggalakkan kampanye #berikami10%. Kampanye ini menyerukan agar 10 persen kursi di parlemen diisi oleh penyandang disabilitas.
Harapannya, dengan adanya wakil disabilitas di parlemen, keputusan-keputusan yang dibuat bisa lebih inklusif.
"Solusi atas masalah harus diatasi dari hulu, agar nanti hilirisasi kebijakan bisa terlaksana dengan tepat," imbuhnya.
Majid juga mendorong rekan-rekan disabilitas untuk tidak patah semangat.
"Jika saya tidak buta, mungkin saya tidak akan mendapat kesempatan belajar di Australia,” ujarnya lagi.
Ketua LSM LIRA Disability Care (LDC) ini meyakini bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya dan melalui pendidikan, peluang sukses di masa depan akan lebih luas.
Motivasi Majid untuk terus bangkit juga datang dari keinginannya untuk tidak menyusahkan orang lain.
"Saya tidak ingin merepotkan keluarga atau orang lain. Saya ingin mandiri," katanya kepada Portal JTV, Selasa (1/10/2024).
Majid percaya bahwa masyarakat perlu lebih memahami dunia penyandang disabilitas. Pikirnya kebanyakan orang hanya melihat keterbatasan fisik, tetapi mereka tidak mau mencari tahu potensi besar yang dimiliki.
Majid juga menyebutkan pentingnya komunitas disabilitas dalam mendorong perubahan sosial. Ia juga berharap agar semakin banyak orang yang berani bersuara untuk hak-hak disabilitas.
"Mungkin akan sedikit susah ketika teman-teman disabilitas itu berjalan sendiri, akan lebih merasa aman dan berani apabila mereka tergabung dalam suatu komunitas," imbuhnya.
"Tidak perlu takut, kalau bukan kita yang berjuang lalu siapa lagi, selama bisa dan mampu akan saya lakukan," tandasnya. (*)
Editor : Khasan Rochmad