PONOROGO - Sebuah rumah milik seorang janda lansia di Desa Nglewan, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, pada Minggu (2/8/2026) malam. Insiden yang terjadi secara tiba-tiba saat cuaca cerah tersebut diduga dipicu oleh getaran dari aktivitas tambang di dekat pemukiman warga, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang.
Kejadian bermula saat pemilik rumah, Kademi, sedang berada seorang diri di dalam bangunan. Ia menceritakan bahwa lantai rumahnya mendadak bergoyang disertai bunyi berderit tepat sebelum bagian atap dan tembok rumah merosot roboh. Beruntung, ia berhasil keluar dan menyelamatkan diri sebelum material bangunan menimpa tubuhnya.
"Lantainya goyang-goyang gitu, ada bunyinya getek-getek-getek. Saya lihat kelambunya itu goyang-goyang," kata Kademi menceritakan detik-detik sebelum rumahnya roboh.
Kondisi rumah Kademi sebenarnya dinilai warga masih tergolong kokoh dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah. Namun, dalam satu bulan terakhir, aktivitas pertambangan yang diduga belum mengantongi izin muncul di area permukiman.
Baca Juga : Kunjungan ke Banyuwangi, Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto Bertemu Pengelola Tambang Emas dan Warga
Jarak tambang dengan rumah korban diperkirakan hanya sekitar 30 meter, di mana aktivitas alat berat setiap harinya kerap memicu getaran keras ke rumah-rumah warga.
Misradi, seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa kayu struktur bangunan rumah korban sejatinya masih bagus dan belum dimakan rayap. Ia meyakini getaran dari alat berat tambang sangat terasa oleh warga sekitar.
"Dilihat dari kayu kan belum ada yang dimakan rayap. Kalau alat berat itu terasa, suaranya keras sekali," ujar Misradi.
Sementara itu, Kepala Desa Nglewan, Suwandi, membenarkan adanya keberadaan tambang yang beroperasi dekat dengan lokasi pemukiman. Pihak pemerintah desa saat ini belum berani memastikan penyebab pasti ambruknya rumah Kademi dan masih berkoordinasi dengan pihak terkait.
"Enggak ada hujan, tapi kok tiba-tiba roboh. Setelah dicek, ini ada tambang, kisarannya sejauh 20–30 meter. Itu mungkin berdampak atau tidak saya tidak tahu," tutur Suwandi.
Pasca kejadian, warga sekitar bergotong royong membersihkan puing-puing material dan menyelamatkan barang-barang milik korban yang masih bisa dipakai. Untuk sementara waktu, Kademi terpaksa mengungsi dan tinggal di rumah kerabat dekatnya. (Sayekti Milan/Dia Vionita)
Editor : Iwan Iwe



















