KAB MADIUN - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan petani di wilayah Madiun Raya pada musim tanam Oktober-Maret. Hingga 7 Oktober 2026, stok pupuk bersubsidi di wilayah tersebut tercatat mencapai 31.267 ton.
Regional CEO 3 Pupuk Indonesia Eko Suroso mengatakan, stok tersebut tersedia untuk petani yang telah terdaftar dan memiliki alokasi dalam e-RDKK. Madiun Raya dalam data tersebut mencakup Kabupaten dan Kota Madiun, Pacitan, Ponorogo, Magetan, serta Ngawi.
Stok tersebut terdiri atas 16.433 ton urea, 10.886 ton NPK Phonska, 19 ton NPK Kakao, 3.764 ton Petroganik, dan 166 ton ZA. Sementara itu, stok pupuk bersubsidi di Jawa Timur mencapai 251.954 ton.
Eko meminta petani menggunakan pupuk sesuai kebutuhan tanaman dan tidak hanya mengandalkan kebiasaan dalam menentukan dosis pemupukan. Menurutnya, penerapan pemupukan yang tepat dapat membantu menjaga produktivitas tanaman sekaligus mempertahankan kondisi tanah.
Baca Juga : Menko Zulhas Rembuk Bareng Ratusan Petani di Banyuwangi
“Petani dapat memanfaatkan pupuk sesuai kebutuhan tanaman. Dengan pemupukan yang tepat, produktivitas dapat dijaga dan kesuburan tanah tetap terpelihara,” kata Eko dalam Media Gathering Regional 3 Pupuk Indonesia di Madiun, Jumat (9/10/2026).
Untuk penyaluran, realisasi pupuk bersubsidi di Madiun Raya hingga periode yang sama telah mencapai 77 persen atau 237.385 ton dari total alokasi 306.864 ton. Di tingkat Jawa Timur, penyaluran mencapai 78 persen atau 1.699.530 ton dari alokasi 2.182.522 ton sepanjang 2026.
Petroganik Masih Perlu Dioptimalkan
Baca Juga : Petrokimia Gresik Salurkan Bantuan untuk 146 Tempat Ibadah dan Lembaga Sosial
Selain pupuk anorganik, Pupuk Indonesia mendorong peningkatan penggunaan pupuk organik Petroganik. Senior Manager Regional 3A Pupuk Indonesia Wawan Arjuna mengatakan, penggunaan bahan organik diperlukan untuk membantu menjaga kualitas tanah dan mendukung efisiensi pemupukan.
Untuk 2026, alokasi Petroganik di Jawa Timur mencapai 146.459 ton. Hingga 7 Oktober, realisasinya mencapai 99.771 ton atau sekitar 68 persen. Khusus Madiun Raya, alokasi Petroganik mencapai 55.183 ton dengan penyerapan sebanyak 33.732 ton atau sekitar 61 persen.
Wawan menyebut penggunaan Petroganik dapat membantu memperbaiki kondisi tanah karena memiliki kandungan C-organik minimal 15 persen. Karena itu, petani didorong tidak hanya memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman, tetapi juga memperhatikan kondisi lahan dalam jangka panjang.
Ketua KTNA Kabupaten Madiun Suharno mengatakan, penggunaan pupuk organik memberikan manfaat terhadap kesuburan tanah. Berdasarkan hasil uji laboratorium, kandungan organik tanah di Madiun Raya saat ini berada di kisaran 2 hingga 2,5 persen sehingga masih membutuhkan perbaikan.
Menurut Suharno, penggunaan Petroganik juga lebih praktis karena tersedia dalam bentuk granul dan kemasan. Kondisi tersebut dinilai memudahkan petani dibandingkan penggunaan bahan organik secara konvensional.
Petani Tidak Wajib Tebus Pupuk Secara Paketan
Sementara itu, Pupuk Indonesia menegaskan tidak ada kewajiban bagi petani untuk menebus pupuk bersubsidi dengan sistem paket. Petani dapat mengambil pupuk sesuai alokasi yang tercatat dalam e-RDKK.
Eko Suroso mengatakan, penggunaan pupuk organik seperti Petroganik merupakan bagian dari upaya mendorong penerapan pemupukan berimbang. Dengan demikian, penggunaan pupuk diharapkan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan tanaman, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan kondisi tanah.
“Tidak ada kewajiban penebusan secara paketan. Yang kami dorong adalah penerapan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Editor : JTV Madiun



















