MAGETAN - Memasuki musim kemarau di awal September, kebutuhan perbaikan jaringan irigasi di Kabupaten Magetan mulai mengalami penyesuaian. Di sisi lain, anggaran Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Magetan tahun ini mengalami efisiensi hingga tersisa sekitar Rp7 miliar.
Sebelumnya, anggaran Bidang SDA 2026 berkisar antara Rp15 miliar hingga Rp20 miliar. Efisiensi tersebut membuat perbaikan jaringan irigasi harus dilakukan dengan skala prioritas.
Kondisi kemarau membuat ketersediaan air untuk lahan pertanian menjadi semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, jaringan irigasi yang bocor atau rusak dapat memperparah persoalan karena air yang seharusnya mengaliri sawah justru terbuang di perjalanan.
Sementara itu, tambahan anggaran melalui Perubahan APBD (P-APBD) juga terbatas karena lebih diprioritaskan untuk penanganan jalan rusak.
Di tengah keterbatasan tersebut, DPUPR Magetan mengandalkan penanganan berdasarkan skala prioritas sekaligus mengoptimalkan lima UPTD, Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), dan Gabungan HIPPA (GHIPPA) untuk menangani kerusakan maupun kebocoran saluran.
Pemerintah Kabupaten Magetan juga mendorong gotong royong masyarakat dengan menyiapkan stimulan material seperti pasir dan semen untuk perbaikan saluran secara swadaya.
Kepala Dinas PUPR Magetan, Muhtar Wahid, mengatakan penanganan irigasi di tengah keterbatasan anggaran tetap terus diupayakan melalui berbagai langkah.
Di sisi lain, dukungan dari pemerintah pusat masih menjadi andalan. Melalui Inpres Nomor 2 Tahun 2025, Magetan mendapat dukungan rehabilitasi Daerah Irigasi Dam Jejeruk senilai sekitar Rp38 miliar serta pembangunan sumur dan perbaikan jaringan irigasi sekitar Rp13,9 miliar.
Perbaikan jaringan irigasi di tengah kemarau ini diperkirakan masih akan menjadi faktor penting agar ketersediaan air tetap terjaga dan beban petani tidak semakin berat akibat penggunaan pompa yang harus bekerja lebih lama.
Editor : JTV Madiun

















