MADIUN - Musim kemarau menjadi berkah bagi sebagian masyarakat. Salah satunya para pengrajin batu bata di Kabupaten Madiun. Produksi meningkat berkat proses pengeringan yang lebih cepat. Namun, di balik meningkatnya produksi, mereka mengaku kesulitan mendapatkan tanah sebagai bahan baku.
Pengrajin batu bata milik Nur Setiawan, warga RT 37 RW 14 Desa Kincang Wetan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, merasakan manfaat musim kemarau dalam proses produksi. Cuaca panas mempercepat proses pengeringan batu bata sehingga hasil produksi meningkat dibandingkan saat musim penghujan. Meski demikian, ketersediaan tanah sebagai bahan baku kini semakin sulit diperoleh.
Pada musim kemarau, Nur Setiawan mampu memproduksi sekitar seribu biji batu bata setiap hari. Dalam satu bulan, jumlah produksi dapat mencapai sekitar 12 ribu biji. Sementara saat musim penghujan, produksi menurun menjadi sekitar tujuh hingga delapan ribu biji karena proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama.
"Sehari bisa seribu, jadi ada peningkatan ketika musim kemarau. Harga di tahun ini masih stabil," ujarnya.
Harga jual batu bata masih stabil, yakni Rp600 ribu hingga Rp650 ribu per seribu biji, sama seperti tahun sebelumnya. Dalam satu siklus produksi, proses pembakaran dilakukan satu kali setiap bulan dengan durasi sekitar sepuluh hari. Hasil produksi saat ini juga mulai diambil pembeli untuk dipasarkan hingga wilayah Bojonegoro. (Adiybah Fawziyyah)
Editor : Iwan Iwe



















