KUALA LUMPUR - Pemerintah Malaysia menyatakan akan membawa persoalan kabut asap lintas batas (transboundary haze) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke forum Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN yang dijadwalkan berlangsung menjelang KTT Ke-49 ASEAN di Manila, Filipina. Isu tersebut dibawa karena dampak kabut asap kini telah dirasakan luas di sejumlah wilayah Asia Tenggara, khususnya di Malaysia.
"Kita sudah memiliki mekanisme ASEAN untuk bencana alam, tetapi kabut asap tidak termasuk atau tidak diklasifikasikan sebagai bencana alam," ujar Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan, Senin (12/10/2026).
Pihak Malaysia menilai klasifikasi khusus dan regulasi baru sangat dibutuhkan agar mekanisme penanganan kabut asap antarnegara anggota ASEAN dapat berjalan lebih terarah dan efektif.
Selain mendorong pembahasan diplomatik di tingkat regional, Malaysia sejauh ini juga masih menunggu respons resmi dari pemerintah Indonesia terkait penawaran bantuan personel serta armada pesawat dan helikopter pemadam kebakaran.
Baca Juga : Prabowo Pimpin Rapat Karhutla, Minta Seluruh Sumber Daya Dikerahkan
"Indonesia memiliki antara tiga hingga empat pesawat dan 34 helikopter, tetapi armada tersebut tidak dapat lepas landas karena jarak pandang sangat buruk sehingga tidak aman untuk penerbangan apa pun di wilayah terdampak," ucap Mohamad Hasan menjelaskan hasil komunikasinya dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir.
Kendala jarak pandang yang buruk tersebut membuat operasi pemadaman dari udara tidak dapat dipaksakan demi keselamatan penerbangan. Di samping itu, upaya rekayasa cuaca atau operasi semai awan juga belum bisa dilaksanakan secara optimal lantaran ketiadaan awan Cumulonimbus yang potensial di wilayah terdampak.
"Namun, mereka telah mengerahkan 60 ribu orang untuk bekerja di lapangan," lanjut Mohamad Hasan.
Baca Juga : Kepala BNPB Minta Maaf Usai Sebut Kehidupan Warga Normal Saat Karhutla
Tantangan di lapangan dinilai kian kompleks karena sebagian besar titik api berada jauh di pedalaman dengan pasokan air yang terbatas serta membakar kawasan lahan gambut. Meski demikian, Malaysia mengimbau agar langkah penanganan terus diperkuat guna meminimalisasi dampak kabut asap lintas batas yang merugikan aktivitas masyarakat di kawasan regional.
"Penawaran itu kami lakukan dengan tulus, tetapi belum ada respons terhadap tawaran kami untuk membantu mereka," kata Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi mengenai bantuan armadanya yang hingga kini masih disiagakan. (Tengku Abdillah Ayyub)
Editor : Iwan Iwe




















