Sebanyak 85 siswa kelas 7 SMP Al-Ikhlash Lumajang mengikuti Studi Jurnalistik dengan mengunjungi JTV Surabaya, Selasa (29/9/2026). Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenal lebih dekat proses produksi berita sekaligus dunia kerja di industri televisi.
SMP Al-Ikhlash Lumajang yang beralamat di Jalan Bengawan Solo Nomor 167 A, Lumajang, membawa para siswa dalam kegiatan kunjungan edukatif tersebut. Rombongan didampingi Kepala SMP Al-Ikhlash Lumajang Puji Lestari, S.Ag., M.Pd., bersama Waka Kurikulum Irma Rofinawati, S.Pd., Waka Kesiswaan Alif Umami, S.P.T., dan Training Centre Arinya Nursetyasari, S.Psi.
Rombongan juga didampingi wali kelas Zuhrofi Santoso, S.Pd. dan Aprilia Azizah L., S.Pd., serta mitra kelas Mahbubah, S.Pd., Zahrotun Nadziro, S.Pd., dan Elida Gadis A., S.Pd. Sementara itu, operator Ahmad Budiono dan petugas keamanan Suryo turut mendukung kegiatan rombongan.
Rombongan berangkat dari Lumajang sekitar pukul 04.30 WIB. Setibanya di Surabaya, para siswa terlebih dahulu mengunjungi Kebun Binatang Surabaya (KBS) sebelum melanjutkan agenda Studi Jurnalistik di JTV.
Setelah mengikuti kegiatan di JTV, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Surabaya untuk melaksanakan salat jamak Dzuhur dan Ashar sebelum kembali ke Lumajang.
Kunjungan ke JTV menjadi bagian dari upaya SMP Al-Ikhlash Lumajang memperluas pembelajaran jurnalistik yang selama ini telah diberikan kepada siswa. Jika sebelumnya siswa mengenal jurnalistik melalui kegiatan literasi, penulisan, dan penerbitan majalah, dalam kunjungan ini mereka mendapat pengalaman mengenal jurnalistik dalam bentuk audio visual.
Kepala SMP Al-Ikhlash Lumajang, Puji Lestari, S.Ag., M.Pd., mengatakan kunjungan ke JTV dilakukan untuk melengkapi edukasi jurnalistik yang telah berjalan di sekolah.
“Melengkapi edukasi yang sudah kami lakukan di sekolah. Jadi jurnalistik kami itu kan masih dalam taraf terbitan majalah. Sementara untuk jurnalistik dalam audio visual kan kami belum, sehingga kami ingin menambah edukasi kami menjadi grade yang lebih tinggi dan lebih utuh dengan mengajak mereka untuk belajar langsung bagaimana sih jurnalistik secara audio visual itu yang di televisi,” ujarnya.
Menurut Puji, pembelajaran jurnalistik di SMP Al-Ikhlash tidak hanya dilakukan melalui kegiatan penerbitan majalah. Sekolah juga memiliki program pengembangan literasi yang melibatkan siswa secara rutin.
“Jurnalistik ini kan bagian dari program SMP Al-Ikhlash mengembangkan potensi jurnalistik anak-anak. Jadi kami ada tim jurnalistik junior, ada tim jurnalistik senior yang berisi ustadz-ustadzahnya,” katanya.
Selain tim jurnalistik, siswa juga mengikuti program PROKSIMA atau Program Kajian Literasi Bersama. Kegiatan literasi tersebut dilakukan secara rutin, sementara majalah sekolah diterbitkan secara berkala setiap enam bulan.
Selama berada di JTV, para siswa mendapat penjelasan mengenai aktivitas di balik produksi program televisi. Mereka diperkenalkan dengan berbagai pekerjaan dalam proses broadcasting, mulai dari presenter, kameramen, hingga teknisi.
Para siswa juga mendapat kesempatan untuk mencoba membaca naskah berita di depan kamera. Kegiatan tersebut memberi pengalaman langsung bagi siswa mengenai bagaimana seorang presenter menyampaikan informasi kepada penonton.
Salah satu siswi, Acquilla Callista Fauzy, turut mencoba menjadi presenter. Ia mengaku mendapat pengalaman baru dalam memahami proses pengolahan naskah hingga menjadi berita yang siap ditayangkan.
“Hari ini saya dan teman-teman sedang mengunjungi JTV Surabaya. Di sini, saya bisa belajar cara menjadi presenter yang baik dan bisa mengolah naskah hingga menjadi berita yang siap ditayangkan. Kesan saya hari ini saya bisa belajar dengan seru, asyik, namun dapat bisa dimengerti dengan baik,” ujarnya.
Selain praktik menjadi presenter, siswa juga menyaksikan secara langsung proses produksi program Jatim Awan yang disiarkan secara live. Setelah itu, mereka mengikuti kegiatan pengenalan studio dan divisi pemberitaan JTV.
Kegiatan kunjungan dibagi menjadi beberapa sesi. Sebagian siswa berkesempatan melihat ruang redaksi dan mengenal proses kerja pemberitaan, sementara kelompok lainnya tetap berada di studio untuk menyaksikan program Pojok Arena. Siswa juga mendapat kesempatan melihat persiapan atau gladi bersih program Cerdas Investasi di Studio 3.
Pada sesi berikutnya, kelompok siswa bertukar kegiatan. Mereka yang sebelumnya berada di studio kemudian mengunjungi ruang redaksi, sedangkan kelompok lainnya melihat aktivitas di studio.
Di ruang redaksi, siswa juga mendapat penjelasan mengenai proses pengolahan berita, termasuk tahapan editing. Selain menerima materi, para siswa diberi tugas untuk melakukan wawancara sebagai bagian dari pengalaman belajar jurnalistik secara langsung.
Puji berharap pengalaman tersebut dapat membuat siswa memahami bahwa jurnalistik tidak berhenti pada kemampuan menulis. Menurutnya, perkembangan media digital juga menuntut kemampuan menyampaikan informasi melalui berbagai bentuk.
“Harapannya memiliki wawasan yang cukup bahwa untuk mengembangkan jurnalistik itu tidak cukup hanya dengan menulis, tetapi mereka bisa tampil di depan kamera untuk mereportasekan, untuk menyampaikan berita,” jelasnya.
Ia menambahkan, kemampuan tampil di depan kamera juga berkaitan dengan cara seseorang membawakan informasi agar dapat diterima dengan baik oleh penonton.
“Bagaimana mereka menjaga perform, kemudian tampil menjadi seseorang yang menarik gitu ya. Kemudian bisa menjadi pribadi yang menyenangkan, menginformasikan dengan detail dan enak didengar, enak dilihat juga,” imbuhnya.
Melalui kunjungan tersebut, sekolah berharap siswa memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai dunia jurnalistik, khususnya produksi konten audio visual. Pengalaman melihat langsung aktivitas di lingkungan televisi juga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi siswa untuk mengembangkan potensi dan prestasi mereka di bidang literasi maupun media digital. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















