LUMAJANG - Dengan membawa jeriken dan galon, warga Desa Meninjo, Kecamatan Ranuyoso, Lumajang, berbondong-bondong mendatangi lokasi bantuan air bersih.
Warga menata berbagai wadah secara berurutan untuk mengantre bantuan air bersih yang telah ditampung dalam tandon besar. Jeriken dan galon milik warga kemudian diisi air bersih secara bergantian menggunakan selang kecil.
Kondisi krisis air bersih ini telah dirasakan warga sejak empat bulan terakhir dan menjadi bencana yang berulang setiap musim kemarau. Hal ini dipicu oleh menipisnya cadangan air bersih setelah penampungan air hujan milik warga habis.
Bantuan air bersih sangat dibutuhkan warga. Pasalnya, jika tidak ada bantuan, warga harus menambah beban pengeluaran dengan membeli air bersih seharga 150 ribu rupiah untuk setiap tangki berkapasitas lima ribu liter. Bahkan, dalam kondisi darurat, warga terpaksa membeli air secara eceran seharga seribu rupiah per jeriken.
Sementara itu, bantuan air bersih di Lumajang kini tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari berbagai pihak. PCNU Lumajang melalui LAZISNU menyalurkan satu juta liter air bersih yang didistribusikan ke daerah terdampak kekeringan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang juga telah memperpanjang status tanggap darurat bencana kekeringan hingga 11 Desember 2026. Dalam periode tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah lokasi terdampak kekeringan di enam kecamatan di Lumajang.
Editor : JTV Jember























