SIDOARJO - Majelis Sholawat Pesona kembali menggelar kajian rutin di Masjid Agung Sidoarjo pada Senin (20/7/2026). Kajian yang dilaksanakan setiap pekan pertama dan terakhir setiap bulannya ini menjadi wadah refleksi serta pembinaan diri bagi umat Muslim.
Pimpinan Majelis Sholawat Pesona, Hj. Mahmudatul Fatkiyah (Bunda Mafah), menjelaskan bahwa kajian ini bertujuan memperdalam pemahaman ilmu agama. Bagi dirinya, ilmu merupakan fondasi utama dalam membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
“Melalui kajian ini, kami berharap jemaah dapat memanfaatkan ilmu sebagai bekal menjaga kualitas ibadah, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang beradab dan berakhlak,” ujar Bunda Mafah.
Kajian ini juga dirancang untuk membantu jemaah membentengi diri dari berbagai penyakit hati, seperti rasa jengkel, pembangkangan terhadap orang tua atau suami, hingga perlakuan zalim kepada anak.
Menurut Bunda Mafah, penyakit hati kerap menjangkiti kaum perempuan dan berpotensi menghapus pahala dari amalan yang dikerjakan.
“Penyakit hati yang tidak dibenahi dapat menolak semua amal ibadah seseorang,” tambahnya.
Majelis ini memiliki sekitar 4.000 anggota yang terbagi ke dalam 42 grup WhatsApp. Kendati dilaksanakan pada hari dan jam kerja, yakni pukul 07.00–10.00 WIB, kajian ini konsisten dihadiri oleh 800 hingga 1.500 jemaah secara langsung.
“Kegiatan diawali dengan melantunkan amalan-amalan agar Allah memberikan keberkahan hidup di dunia dan akhirat,” tutur Bunda Mafah.
Jemaah yang terlibat tidak hanya berasal dari Sidoarjo dan sekitarnya seperti Malang dan Mojokerto, tetapi juga menjangkau luar Jawa hingga luar kota seperti Jakarta, Kalimantan, Bali, Yogyakarta, dan Semarang yang mengikuti rangkaian acara secara daring melalui Zoom.
Dalam majelis ini, para jemaah disapa dengan sebutan Jemaah Riyadhoh. Nama tersebut mengandung makna amalan selawat seribu kali sebagai pelindung dan tirakat harian jemaah.
“Dalam setiap nama tersemat doa. Jemaah Riyadhoh bermakna amalan selawat seribu sebagai pelindung harian,” jelasnya.
Uniknya, para jemaah yang hadir secara langsung mengenakan pakaian dengan kode busana (dresscode) berseragam, yakni perpaduan busana putih dengan jilbab polos berwarna biru atau hijau guna memupuk rasa kebersamaan.
“Berawal dari kebersamaan agar tercipta kekompakan dan kerukunan. Dalam hadis disebutkan bahwa saat Allah, Rasulullah, dan para malaikat melihat kekompakan jemaah, doa-doa akan lebih mudah dikabulkan,” pungkas Bunda Mafah. (Maulana Saputro/Dia Vionita)
Editor : Iwan Iwe



















